Defisit APBN 2026 diperkirakan mencapai Rp734,3 triliun atau 2,85 persen dari PDB, lebih lebar dibanding target awal pemerintah sebesar Rp689,1 triliun. Tekanan terbesar datang dari belanja negara yang tumbuh lebih cepat daripada pendapatan.
Proyeksi itu menunjukkan rasio defisit kembali naik dan mendekati level yang selama ini hanya terlihat pada masa pandemi. Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, menilai kondisi tersebut sebagai sinyal bahwa tekanan fiskal makin nyata.
Belanja naik lebih cepat daripada pendapatan
Pemerintah memprakirakan pendapatan negara 2026 mencapai Rp3.208,1 triliun, atau 101,73 persen dari target APBN. Angka itu juga disebut naik 16,02 persen dibanding realisasi 2025.
Di sisi lain, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun, setara 102,95 persen dari pagu APBN. Jika proyeksi itu terjadi, kenaikan belanja tersebut menjadi yang tertinggi dalam 15 tahun terakhir menurut Awalil.
| Komponen | Proyeksi 2026 | Perbandingan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan negara | Rp3.208,1 triliun | 101,73% dari target | Naik 16,02% dari realisasi 2025 |
| Belanja negara | Rp3.942,4 triliun | 102,95% dari pagu APBN | Naik 14,76% dari realisasi 2025 |
| Defisit APBN | Rp734,3 triliun | 2,85% dari PDB | Lebih lebar dari target Rp689,1 triliun |
Rasio defisit naik ke level yang jarang terjadi
Karena belanja tumbuh lebih cepat dari pendapatan, defisit APBN 2026 membesar menjadi Rp734,3 triliun. Rasio defisit terhadap PDB pun naik menjadi 2,85 persen, lebih tinggi dari target awal pemerintah yang sebesar 2,68 persen.
Awalil menyebut posisi itu sebagai rasio tertinggi, kecuali pada masa pandemi tahun 2020 dan 2021. Ia juga membandingkan tren lintas pemerintahan untuk menunjukkan bahwa beban fiskal saat ini bergerak ke arah yang lebih berat.
Perbandingan defisit antarperiode pemerintahan
| Periode | Rata-rata Defisit/PDB | Catatan |
|---|---|---|
| Era SBY | 1,19% | Rata-rata paling rendah dalam perbandingan Awalil |
| Jokowi pertama (2015-2019) | 2,32% | Meningkat dibanding era SBY |
| Era Prabowo, tahun pertama | 2,81% | Langsung tinggi sejak awal masa pemerintahan |
| Prakiraan 2026 | 2,85% | Lebih tinggi dari tahun pertama era Prabowo |
Untuk belanja negara, Awalil mencatat pola yang juga berbeda antarperiode. Pada era SBY, kenaikan rata-rata per tahun mencapai 15,79 persen, sedangkan pada era Jokowi sebesar 6,64 persen.
Adapun pada tahun pertama era Prabowo, belanja hanya naik 2,25 persen. Namun, proyeksi 2026 menunjukkan lonjakan 14,76 persen dibanding realisasi 2025, sehingga menjadi faktor utama yang mendorong defisit melebar.
Pemerintah telah menyampaikan laporan pelaksanaan APBN Semester I Tahun Anggaran 2026 kepada DPR, termasuk prakiraan realisasi sampai akhir tahun. Dengan kombinasi pendapatan yang masih tumbuh dan belanja yang melaju lebih cepat, APBN 2026 bergerak menuju defisit yang lebih besar dari rencana awal.
Source: money.kompas.com






