Pergerakan IHSG kembali berada di titik yang membuat pasar waspada, karena indeks tinggal selangkah lagi dari level psikologis 7.000. Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 32,12 poin atau 0,46 persen ke 6.988,92, sehingga perhatian investor langsung tertuju pada kemampuan indeks mempertahankan momentum tersebut.
Kenaikan awal itu muncul setelah IHSG sempat tertekan 2,42 persen sepanjang pekan lalu dan ditutup di 6.956,80. Tekanan terbesar datang dari koreksi saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Data domestik jadi fokus utama
Pasar kini menunggu rangkaian data ekonomi yang akan dirilis pekan ini. Sorotan terbesar berada pada indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, angka inflasi, serta pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang dijadwalkan keluar pada 5 Mei.
Selain itu, investor juga memantau rilis cadangan devisa dan penjualan mobil pada akhir pekan. Deretan data tersebut dipandang penting karena dapat memberi petunjuk baru soal kekuatan pemulihan ekonomi nasional dan arah gerak IHSG berikutnya.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai pelaku pasar ikut mencermati realisasi APBN 2026. Perhatian itu muncul di tengah kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan dampaknya terhadap ekonomi.
Defisit APBN ikut menekan sentimen
Kekhawatiran pasar menguat setelah pemerintah melaporkan defisit APBN hingga akhir Maret 2026 sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB. Angka itu lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika defisit tercatat 0,43 persen dari PDB.
Kenaikan defisit terjadi seiring belanja negara yang meningkat menjadi Rp815 triliun. Kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam membaca arah kebijakan fiskal, terutama karena dampaknya bisa merembet ke saham-saham domestik.
Faktor global masih ikut membayangi
Di luar dalam negeri, sentimen eksternal juga belum sepenuhnya stabil. Ratna menyebut investor masih memperhatikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat dan indikator sektor jasa, terutama data ISM.
Pasar juga menunggu tanggapan Presiden Donald Trump atas proposal perdamaian baru dari Iran. Kombinasi faktor tersebut membuat arah pasar global tetap diperhitungkan oleh pelaku pasar di bursa domestik.
Minyak dunia dan posisi teknikal IHSG
Phintraco Sekuritas turut menyoroti pergerakan harga minyak dunia yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Kontrak WTI berada di level US$102,09 per barel, sedangkan Brent tercatat US$108,60 per barel.
Meski sempat dibuka menguat di sesi Asia, kedua acuan minyak mentah itu sudah turun lebih dari 3 persen dalam dua hari terakhir. Pergerakan tersebut menambah ketidakpastian, terutama karena berkaitan dengan biaya dan inflasi.
Dari sisi teknikal, IHSG dinilai sedang berada dalam fase penentuan untuk kembali menembus 7.000. Jika indeks mampu bertahan dan rebound di atas level itu, pergerakannya diperkirakan mengarah ke kisaran 7.020 hingga 7.150.
Sebaliknya, bila IHSG belum sanggup menjaga posisi di atas 7.000, pasar berisiko menguji support di rentang 6.750 hingga 6.850. Karena itu, pembukaan yang sudah mendekati 7.000 membuat respons investor terhadap data ekonomi domestik menjadi penentu utama arah perdagangan berikutnya.







