Tekanan terhadap rupiah masih belum mereda setelah defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat mencapai 4 miliar dolar AS pada triwulan I 2026. Pada perdagangan Jumat (22/5/2026) di Jakarta, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.716 per dolar AS, melemah 49 poin atau 0,29 persen dari penutupan sebelumnya.
Defisit itu menjadi sorotan karena disebut berada di level terdalam dalam lebih dari enam tahun. Data Indo Premier Sekuritas juga menunjukkan kondisi yang lebih lemah dari perkiraan pasar, sehingga kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia ikut meningkat.
Tekanan datang dari beberapa sisi
Bank Indonesia menjelaskan bahwa neraca perdagangan nonmigas memang masih mencatat surplus, tetapi nilainya lebih kecil dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan ekonomi dunia membuat aktivitas perdagangan Indonesia ikut tertekan dan mengurangi kekuatan surplus tersebut.
Selain itu, defisit neraca pendapatan primer juga melebar. BI menyebut kenaikan pembayaran kupon dan bunga utang menjadi salah satu faktor yang menekan, sementara neraca jasa justru membaik karena impor jasa freight menurun.
Situasi tidak berhenti di transaksi berjalan. Pada triwulan I 2026, transaksi modal dan finansial juga mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS, berbalik dari surplus 9 miliar dolar AS pada akhir 2025.
Pasar masih menaruh perhatian pada risiko domestik
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah terutama datang dari sentimen dalam negeri, terutama defisit transaksi berjalan yang terus melebar. Ia melihat data terbaru menunjukkan kondisi yang lebih buruk dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan lebih lebar dari perkiraan pasar.
Di saat yang sama, pasar juga tetap mencermati respons terhadap kebijakan moneter. Meski Bank Indonesia baru menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada pekan yang sama, pelaku pasar tampak lebih fokus pada risiko eksternal dan tanda-tanda melemahnya ketahanan ekonomi domestik.
Lukman juga menyebut sentimen risk off di pasar ekuitas domestik ikut menekan rupiah. Menurut dia, kondisi itu memperbesar risiko pelemahan dalam waktu dekat.
Cadangan devisa masih jadi bantalan
Di tengah defisit neraca pembayaran, BI menegaskan cadangan devisa masih berada di level 148,2 miliar dolar AS. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk membiayai 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
BI juga mencatat investasi langsung ke Indonesia masih membukukan surplus meski pasar keuangan global bergejolak. Kondisi ini menunjukkan minat investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia belum sepenuhnya melemah.
Namun, bantalan itu belum cukup untuk menghapus tekanan jangka pendek di pasar valas. Rupiah tetap bergerak sensitif terhadap perubahan sentimen global dan domestik.
Pekan depan masih rentan bergejolak
Untuk pekan depan, Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah dan bisa bergerak ke Rp17.800 per dolar AS. Pada perdagangan awal pekan, rupiah juga disebut akan dipengaruhi perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk respons Iran terhadap proposal AS.
BI sendiri memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang 2026 masih berada dalam batas aman, yaitu di kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap PDB. Meski begitu, ketidakpastian global masih menjadi tantangan utama bagi stabilitas ekonomi nasional dan membuat rupiah tetap rentan terhadap guncangan eksternal.
Source: www.suara.com