Tekanan Rupiah Buka Peluang Cuan Ekspor, Mendag Soroti Kenaikan Transaksi Dolar

Author: Redaksi Android62

Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS membuka peluang yang lebih lebar bagi eksportir. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai transaksi ekspor yang umumnya menggunakan dolar AS dapat menghasilkan imbal devisa lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Pandangan itu muncul ketika kinerja ekspor Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Kementerian Perdagangan mencatat ekspor naik 5,48 persen pada April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor mendapat dorongan dari kurs

Budi mengatakan pelemahan rupiah tidak selalu membawa dampak yang sama bagi semua sektor. Bagi pelaku ekspor, nilai penjualan dalam dolar AS justru bisa memberi hasil rupiah yang lebih besar.

Ia melihat kondisi ini sebagai momentum untuk memaksimalkan permintaan dari pasar luar negeri. Selama ekspor tetap tumbuh, pelemahan rupiah dapat menjadi faktor yang membantu penerimaan perdagangan internasional.

Saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (4/6/2026), Budi menyoroti kenaikan ekspor 5,48 persen itu. Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan adanya surplus dan memberi alasan untuk tetap optimistis terhadap perdagangan luar negeri.

Impor ikut masuk pengawasan

Di sisi lain, nilai tukar yang melemah juga membawa risiko pada barang impor. Karena sebagian besar komoditas dibeli dengan mata uang asing, biaya impor berpotensi naik.

Pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok atau SP2KP menunjukkan sejumlah barang impor masih berada dalam kondisi aman. Budi menyebut harga kedelai sebagai salah satu contoh yang sejauh ini masih terkendali.

Meski begitu, pemerintah tetap menaruh perhatian pada potensi kenaikan harga impor di masa mendatang. Dampaknya dapat merambat ke biaya produksi dan distribusi jika tekanan rupiah terus berlanjut.

Pasokan bahan baku dan pangan tetap dijaga

Pemerintah juga memantau ketersediaan bahan baku industri agar rantai pasok tidak terganggu. Kemendag terus berkomunikasi dengan para produsen untuk memastikan stok tidak menipis dan distribusi tetap berjalan.

Budi menegaskan bahwa importasi bahan baku masih dipantau secara rutin. Ia meminta agar kondisi stok tetap terjaga supaya kebutuhan produksi tidak terganggu.

Untuk kebutuhan domestik, stok bahan pokok disebut masih normal. Bahkan, menurut Budi, ada komoditas yang masih surplus, termasuk telur.

Dengan ekspor yang masih tumbuh dan pasokan dalam negeri yang dinilai aman, pemerintah membaca pelemahan rupiah sebagai situasi yang perlu dikelola hati-hati. Di satu sisi, peluang cuan ekspor terbuka lebih lebar, tetapi pengawasan terhadap impor, bahan baku industri, dan pasokan barang pokok tetap menjadi penentu agar tekanan nilai tukar tidak berubah menjadi beban baru di pasar domestik.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru