Sekitar 180 orang dilaporkan terluka dalam demonstrasi pelajar di India yang menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri. Aksi di New Delhi itu juga berujung pada penangkapan 70 demonstran setelah massa bergerak menuju gedung parlemen.
Besarnya jumlah korban membuat penanganan aksi menjadi perhatian utama dalam protes yang dipelopori kelompok muda tersebut. Hingga laporan terakhir, Kepolisian Delhi belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai tudingan kekerasan maupun jumlah korban luka.
| Indikator | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Orang terluka | Sekitar 180 orang | Dilaporkan mengalami luka-luka |
| Demonstran ditangkap | 70 orang | Ditangkap setelah aksi protes |
Demonstrasi ini berlangsung di tengah kemarahan kalangan muda atas skandal kebocoran ujian. Namun, tuntutan massa berkembang melampaui isu pendidikan dan menyoroti sulitnya memperoleh pekerjaan serta tingginya pengangguran di India.
Para peserta mengenakan topeng kecoak sebagai simbol protes yang paling mencolok dalam aksi tersebut. Simbol itu berkaitan dengan Cockroach Janata Party atau CJP, kelompok yang dibentuk sebagai sindiran politik terhadap Bharatiya Janata Party atau BJP.
Long march menuju parlemen
Ribuan pelajar dilaporkan melakukan long march menuju gedung parlemen di New Delhi. Dalam pergerakan itu, demonstran disebut menghadapi tindakan kekerasan dari petugas di lapangan.
Situasi kemudian memicu laporan mengenai korban luka dalam jumlah besar serta penahanan peserta aksi. CJP menyatakan akan memberi bantuan hukum bagi demonstran yang ditangkap, di tengah tudingan bahwa sebagian dari mereka ditahan secara sewenang-wenang.
Juru bicara ACP Ashutosh Ranka turut meminta Kepolisian Delhi membebaskan semua demonstran yang ditangkap. Ia juga mendesak kepolisian menjelaskan secara terbuka jumlah orang yang masih ditahan terkait protes tersebut.
“Polisi Delhi perlu menjelaskan secara gamblang berapa banyak orang yang masih ditahan terkait protes kemarin,” ujar Ranka. Desakan itu muncul ketika perhatian terhadap dampak penanganan demonstrasi terus menguat.
Permintaan maaf dari pendiri CJP
Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung aksi setelah banyak peserta dilaporkan mengalami luka. Menurut DW sebagaimana dikutip CNN Indonesia, ia secara khusus menyinggung perempuan yang menjadi korban kekerasan.
“Saya meminta maaf ke semua pendukung kami, terutama ke para perempuan yang dipukuli secara brutal oleh polisi laki-laki,” kata Dipke pada Senin (20/7). Ia mengakui perlindungan terhadap peserta aksi seharusnya dapat dilakukan dengan lebih baik.
Dipke juga menyatakan, “Kita seharusnya bisa berbuat lebih baik. Saya seharusnya bisa berbuat lebih baik untuk melindungi Anda dari tindakan tak manusiawi Kepolisian Delhi.”
Ia mengatakan salah seorang peserta demonstrasi berada dalam kondisi kritis akibat serangan polisi. Laporan tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari Kepolisian Delhi.
Protes meluas dari kebocoran ujian
Tuntutan pengunduran diri Dharmendra Pradhan menjadi salah satu fokus demonstrasi, tetapi bukan satu-satunya isu yang dibawa massa. Kebocoran ujian, keterbatasan lapangan kerja, dan pengangguran menjadi rangkaian persoalan yang disuarakan kalangan muda.
Di balik topeng kecoak, CJP menempatkan aksi ini sebagai kritik terhadap pertanggungjawaban pihak berwenang. Bantuan hukum bagi peserta yang ditangkap pun menjadi langkah lanjutan kelompok tersebut setelah demonstrasi di New Delhi.
