Denmark menjadi negara Eropa terbaru yang memberi persetujuan sementara untuk Tesla Full Self-Driving (Supervised). Langkah ini membuka jalan bagi sistem bantuan pengemudi itu, tetapi masa depannya di kawasan Eropa masih bergantung pada keputusan yang lebih besar di tingkat Uni Eropa.
Situasi tersebut membuat akses FSD Tesla di Eropa berada dalam posisi yang belum sepenuhnya aman. Negara-negara tertentu memang sudah bergerak lebih cepat, namun keputusan kolektif di Brussels tetap menjadi penentu akhir bagi pengakuan yang lebih luas.
Persetujuan nasional yang menumpang jalur Belanda
Skema di Denmark mengikuti pola pengakuan atas persetujuan RDW, otoritas kendaraan Belanda. RDW sebelumnya memberi lampu hijau pada April 2026 di bawah UN Regulation 171 setelah 18 bulan pengujian dan pengumpulan 1,6 juta kilometer data jalan Eropa.
Persetujuan itu diberikan untuk perangkat lunak versi 2026.3.6 dan diuji terhadap lebih dari 400 persyaratan. Dengan dasar tersebut, negara lain dapat mengadopsi hasil penilaian yang sama tanpa harus memulai pengujian dari awal.
Pendekatan ini memang mempercepat proses, tetapi juga membuat keputusan nasional sangat bergantung pada validitas persetujuan awal. Jika dasar regulasinya berubah, rantai pengakuan yang sudah dibangun dapat ikut goyah.
Bukan mobil otonom penuh
Meski namanya terdengar meyakinkan, FSD Supervised tetap berada di level 2. RDW menegaskan bahwa sistem ini adalah driver assistance system, sehingga pengemudi tetap memikul tanggung jawab penuh dan harus selalu menjaga kendali.
Sistem ini juga memantau perhatian pengemudi melalui kamera. Bila pengemudi tidak fokus, mobil dapat berhenti secara terkendali, sehingga penggunaan di jalan tetap menuntut pengawasan aktif.
Sebelum pertama kali memakai sistem ini di Eropa, pengemudi harus menyelesaikan tutorial wajib dan kuis. Aturan tersebut menegaskan bahwa label “supervised” bukan sekadar istilah pemasaran, melainkan batasan operasional yang nyata.
Model langganan membuat risikonya berbeda
Tesla kini menjual FSD di Eropa lewat skema berlangganan bulanan, bukan pembelian sekali bayar. Harga yang dipakai adalah €99 per bulan, atau €49 untuk pemilik Enhanced Autopilot.
Model ini memberi pendapatan perangkat lunak yang berulang bagi Tesla. Namun bagi pengguna, skema tersebut juga membawa risiko baru karena layanan yang dibayar tiap bulan bisa berubah status jika regulator mengubah sikap.
Di Denmark, situasinya menjadi lebih sensitif karena persetujuan yang diberikan masih bersifat sementara. Jika proses di tingkat Uni Eropa berbalik arah, akses yang sudah dibuka secara nasional bisa saja ditarik kembali.
Brussels masih memegang kendali akhir
Walau beberapa negara bergerak lebih cepat, proses persetujuan di tingkat Uni Eropa masih berjalan lambat melalui berbagai komite. Tesla membutuhkan 15 dari 27 negara anggota yang mewakili 65% populasi Uni Eropa untuk mendapatkan pengakuan blok secara menyeluruh.
Sejumlah regulator Nordik sebelumnya sudah menyuarakan kekhawatiran soal sistem ini. Dua isu yang paling sering muncul adalah potensi pelampauan batas kecepatan dan penggunaan label “Full Self-Driving” yang dianggap menyesatkan.
Jika Uni Eropa pada akhirnya menolak sistem ini, negara-negara yang sudah memberi pengakuan nasional akan menghadapi tekanan untuk mencabut akses. Dalam skenario itu, langganan bulanan yang sudah dibayar pengguna bisa berubah menjadi biaya mahal untuk kebijakan yang belum stabil.
Perkembangan di Denmark menunjukkan benturan antara kecepatan adopsi Tesla dan kehati-hatian regulasi Eropa. Tesla berusaha memperluas FSD lewat jalur pengakuan nasional, tetapi masa depannya tetap bergantung pada keputusan kolektif yang belum selesai di tingkat Uni Eropa.







