Depresiasi Mobil China Lebih Dalam, Resale Value Jepang Masih Unggul Jauh

Mobil bekas merek China tercatat mengalami penurunan harga yang lebih dalam dibandingkan mobil Jepang di segmen yang setara. OLXmobbi menyebut selisih depresinya bisa 20-30 persen lebih besar, terutama pada model bermesin bensin atau diesel yang sudah beredar tiga hingga lima tahun di Indonesia.

Perbedaan itu langsung terasa di pasar seken karena nilai jual kembali menjadi pertimbangan utama banyak konsumen. Dalam kondisi seperti ini, merek Jepang masih dinilai lebih kuat menjaga harga saat kendaraan masuk fase penjualan ulang.

Innova dan Cortez jadi contoh paling jelas

Direktur OLXmobbi, Agung Iskandar, menegaskan bahwa mobil China berbasis ICE memang mengalami depresiasi yang lebih besar ketika disandingkan dengan model Jepang yang sekelas. Contoh yang disorot berasal dari segmen MPV, yakni perbandingan Wuling Cortez dan Toyota Kijang Innova.

Agung menjelaskan, jika Toyota Innova mengalami depresiasi sekitar 6-10 persen dalam setahun, maka Cortez bisa berada di kisaran 8-15 persen lebih tinggi. Selisih itu menunjukkan bahwa tekanan harga pada mobil China di pasar bekas bukan hanya terasa tipis, tetapi cukup besar.

ModelDepresiasi PerkiraanKeterangan
Toyota Kijang Innova6-10 persen per tahunNilai jual kembali lebih stabil
Wuling Cortez8-15 persen lebih tinggi dari InnovaPenurunan harga bekas lebih besar

Stabilnya harga Kijang Innova memperlihatkan kuatnya persepsi pasar terhadap produk Jepang yang sudah lama beredar. Hal itu membuat konsumen lebih mudah memperkirakan biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka menengah hingga panjang.

Rekam jejak masih menjadi pekerjaan rumah

Menurut OLXmobbi, tantangan terbesar mobil China ada pada pembentukan kepercayaan di pasar mobil bekas. Rekam jejak jangka panjang yang belum cukup kuat membuat histori ketahanan, permintaan ulang, dan persepsi purnajual belum terbentuk sepenuhnya.

Akibatnya, harga mobil bekas cenderung lebih cepat terkoreksi ketika unit mulai memasuki usia tiga hingga lima tahun. Kondisi ini paling terlihat pada model yang berbasis mesin konvensional, yaitu bensin atau diesel.

Pada saat yang sama, merek Jepang masih dianggap lebih aman dari sisi nilai jual kembali. Keunggulan itu membuat mobil Jepang tetap berada di posisi yang lebih solid di tengah pasar seken yang sensitif terhadap reputasi merek.

Pasar mobil bekas China masih didominasi Wuling

OLXmobbi mencatat pasar mobil bekas merek China saat ini masih didominasi Wuling. Hal itu terjadi karena Wuling lebih dahulu masuk ke pasar Indonesia dibandingkan merek Tiongkok lain, sehingga jumlah unit yang beredar juga lebih banyak.

Kondisi tersebut membuat pergerakan harga bekas mobil China paling mudah terlihat dari produk Wuling. Di sisi lain, DFSK juga mulai muncul di pasar mobil bekas, tetapi kontribusinya masih sangat kecil karena unit yang beredar masih terbatas.

Lanskap ini menunjukkan bahwa pasar mobil bekas merek China masih berada pada fase awal. Pembentukan harga di segmen tersebut belum sekuat merek yang sudah lama mapan, sehingga perubahan nilainya masih cukup mudah bergerak turun.

Dampaknya bagi pembeli dan pemilik

Bagi pembeli mobil bekas, depresiasi yang lebih dalam bisa membuka peluang mendapatkan harga yang lebih rendah. Namun bagi pemilik yang ingin menjual kembali kendaraan dalam beberapa tahun, selisih depresiasi ini perlu masuk dalam perhitungan sejak awal pembelian.

Pada akhirnya, pasar mobil bekas tidak hanya ditentukan oleh usia kendaraan dan kondisi unit. Persepsi merek, rekam jejak di Indonesia, serta kekuatan permintaan di pasar sekunder ikut menentukan seberapa baik sebuah mobil mempertahankan nilainya.

Source: otodriver.com

Berita Terkait