Deretan Gereja Dipepet Pencurian Di Jawa Tengah, Polisi Buru Kesamaan Pola Pelaku

Pola pencurian yang menyasar gereja-gereja di Jawa Tengah kini menjadi perhatian serius kepolisian. Sejumlah rumah ibadah Protestan di wilayah pegunungan dan pedesaan dibobol dengan cara yang dinilai mirip, sementara barang yang hilang umumnya berupa perlengkapan ibadah yang mudah dibawa.

Penyidik melihat ada kemiripan kuat dari rangkaian kejadian tersebut. Gereja yang menjadi sasaran berada di lokasi yang relatif sepi, lalu pelaku diduga masuk saat pengawasan longgar dan membawa kabur gitar, keyboard, amplifier, serta speaker.

Direktur Tindak Pidana Polda Jawa Tengah Kombes M. Anwar Nasir mengatakan pihaknya mendukung jajaran Polres dan Polsek dalam pengusutan perkara ini. Tim di level direktorat, kata dia, sedang menganalisis rangkaian insiden untuk mencari siapa pelaku di balik peristiwa beruntun tersebut.

Karena banyak gereja sasaran tidak memiliki pengawasan internal yang memadai, penyidik kini banyak bertumpu pada keterangan saksi dan rekaman CCTV dari sekitar lokasi. Cara ini dipakai untuk menyusun hubungan antarperistiwa dan melihat apakah rangkaian pencurian tersebut dilakukan oleh pihak yang sama.

Di Kecamatan Getasan, lereng Gunung Merbabu, sejumlah gereja dilaporkan dibobol sejak Februari. Satu kejadian lain juga muncul pada 21 April di Gereja Bethel Injil Sepenuh Gunung Sinai di Tamansari, yang berada di jalur pegunungan Merapi-Merbabu.

Rangkaian kasus yang ikut diperiksa mencakup pencurian pertama pada 7 Februari di Gereja Kristen Jawa Tengah Utara di Desa Tajuk. Setelah itu, ada dua peristiwa pada 8 April di Gereja Metodis Indonesia di Desa Batur dan 14 April di Gereja Bethel Indonesia di Desa Sumogawe.

Kapolsek Getasan Agus Pardiyono Marinus menyebut para pelaku diduga memanfaatkan waktu lengang pada siang hari. Saat itu, gereja biasanya terkunci dan tidak ada penjaga di dalam bangunan, sehingga pelaku bisa bergerak tanpa banyak hambatan.

Agus juga menjelaskan bahwa pelaku umumnya masuk dengan mencongkel pintu atau jendela. Pola itu membuat polisi menduga aksi dilakukan secara terencana, apalagi karena sasaran berada di lokasi yang mudah diamati dari luar.

Selain menelusuri pelaku, aparat juga mulai mendorong pengamanan rumah ibadah agar lebih kuat. Polda Jawa Tengah berkoordinasi dengan pemimpin gereja dan kelompok keamanan masyarakat di sekitar lokasi kejadian, termasuk hansip setempat yang ikut dilibatkan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Polisi juga menyarankan gereja yang belum memiliki CCTV agar memasangnya, sedangkan sistem yang sudah ada diminta tetap dipastikan berfungsi baik. Langkah ini dinilai penting karena banyak gereja di kawasan pegunungan berada jauh dari keramaian dan kerap dibiarkan terkunci tanpa penjagaan langsung ketika tidak ada kegiatan ibadah.

Di tengah penyelidikan itu, muncul pula perhatian yang lebih luas soal keamanan tempat ibadah di Indonesia. Data SETARA Institute mencatat ada 260 insiden dan 402 tindakan yang melanggar kebebasan beragama dan berkeyakinan pada 2024.

Laporan tahunan lembaga itu menyebut vandalisme, penutupan, intimidasi, dan kerusakan tempat ibadah sebagai bentuk pelanggaran yang paling sering muncul. Dampaknya tidak hanya dirasakan gereja, tetapi juga masjid milik kelompok minoritas di daerah tertentu serta tempat keagamaan lain.

Seorang anggota Gereja Bethel Injil Sepenuhnya menegaskan bahwa tempat ibadah seharusnya dihormati agar orang dapat berdoa dengan tenang. Ia juga mengingatkan bahwa kerugian akibat pencurian bukan hanya soal barang hilang, tetapi juga menyentuh rasa aman dan kesakralan ruang ibadah.

Source: indonesia.ucanews.com

Berita Terkait