Pemerintah kembali menaruh perhatian pada pelaksanaan program makan bergizi gratis atau MBG setelah Zulkifli Hasan meninjau langsung SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Kunjungan itu tidak hanya melihat makanan yang dibagikan kepada siswa, tetapi juga menilai apakah layanan di sekolah sudah siap mendukung program tersebut.
Di lokasi, Menteri Koordinator Bidang Pangan yang akrab disapa Zulhas memeriksa paket makanan yang diterima siswa dan berdialog singkat dengan mereka. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan MBG benar-benar memberi manfaat gizi bagi peserta didik dan tidak sekadar berjalan sebagai program seremonial.
Sekolah dinilai siap jalankan MBG
Dari hasil pemantauan di lapangan, pelaksanaan MBG di SMA Negeri 1 Depok disebut berjalan sesuai standar. Pengawasan rutin ditempatkan sebagai bagian penting agar layanan satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG tetap berada pada jalur yang ditetapkan.
Zulhas menegaskan bahwa pemantauan dilakukan atas arahan presiden. Karena itu, perhatian pemerintah tidak berhenti pada pembagian makanan, melainkan juga menyentuh mutu layanan serta ketepatan sasaran penerima manfaat.
Di sekolah, kesiapan menjadi faktor utama karena program ini bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian siswa. Menu yang disajikan perlu aman, layak konsumsi, dan mendukung aktivitas belajar di kelas.
Respons siswa ikut menjadi perhatian
Interaksi dengan siswa menjadi salah satu bagian penting dalam peninjauan tersebut. Pemerintah ingin mengetahui secara langsung apakah menu yang dibagikan diterima dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan gizi anak sekolah.
Respons dari siswa dipandang sebagai ukuran nyata keberhasilan program di lapangan. Jika makanan yang disediakan sesuai, maka manfaat MBG diharapkan lebih terasa dalam mendukung konsentrasi dan kegiatan belajar.
Berikut fokus yang dilihat dalam kunjungan itu:
- Paket makanan yang dibagikan kepada siswa.
- Tanggapan siswa terhadap menu MBG.
- Kesiapan sekolah menjalankan layanan program.
- Kesesuaian pelaksanaan dengan standar SPPG.
Pengawasan tidak berhenti di ruang kelas
Kunjungan ke Sleman juga dimanfaatkan untuk memantau aspek yang lebih luas dari urusan pangan. Zulhas menyebut sejumlah hal ikut diperiksa, mulai dari irigasi, ketersediaan pupuk, hingga kondisi gabah petani.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memandang ketahanan pangan sebagai rangkaian yang saling terhubung. Produksi di tingkat petani, kelancaran distribusi, dan pelayanan di sekolah sama-sama memegang peran dalam menjaga pasokan pangan nasional.
Dalam situasi geopolitik global yang masih dinamis, pemerintah menilai pengawasan semacam ini penting. Stabilitas pangan disebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi di hulu maupun hilir.
Koperasi desa juga ikut disorot
Selain MBG, Zulhas turut meninjau kesiapan Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes Merah Putih. Program ini diproyeksikan ikut memperkuat ekosistem pangan di daerah.
Pemerintah juga menyiapkan perekrutan sekitar 30.000 manajer koperasi untuk mendorong penguatan kelembagaan ekonomi di desa dan wilayah pesisir. Upaya ini ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian kebijakan yang mendukung ketahanan pangan secara lebih luas.
Zulhas menyampaikan stok pangan nasional masih aman dan diperkirakan cukup hingga akhir tahun. Dengan begitu, perhatian pemerintah saat ini tertuju pada penguatan program di sekolah, kelancaran produksi pangan, serta kesiapan koperasi desa agar seluruh rantai pasok tetap berjalan stabil.
Source: www.beritasatu.com