Di Tengah Ancaman Siber Meningkat, BNI Andalkan 5 Tahap Untuk Menjaga Layanan Tetap Aman

Author: Redaksi Android62

BNI menata keamanan digitalnya lewat lima pilar yang dirancang untuk menghadapi serangan siber yang semakin menekan sektor perbankan. Skema itu mencakup identifikasi, perlindungan, deteksi, respons, dan pemulihan, sehingga pertahanan bank tidak berhenti pada pencegahan saja.

Chief Information Security Officer BNI, Kirby Chong, memaparkan pendekatan tersebut dalam Tech & Telco Forum 2026 yang mengangkat tema “Building a Safer Digital Nation: From Connectivity to Cyber Resilience”. Penekanannya jelas, yakni bank harus mampu mengenali ancaman lebih awal, merespons secara terukur, lalu kembali pulih ketika gangguan sudah terjadi.

Model berlapis seperti ini menjadi penting karena layanan keuangan kini makin bergantung pada sistem digital. Saat transaksi dan layanan nasabah berlangsung lewat kanal online, gangguan kecil saja dapat langsung memengaruhi akses layanan, operasional bank, dan rasa percaya publik.

Dorongan untuk memperkuat ketahanan siber juga muncul dari karakter infrastruktur digital yang saling terhubung. Gangguan di satu titik tidak hanya berhenti pada satu sektor, tetapi dapat merambat ke layanan lain yang terhubung, termasuk administrasi pemerintah, keuangan, pertahanan, energi, dan kesehatan.

Ketua Tim Pengukuran Keamanan Siber, D41 BSSN, Megi Paramitha Putra, menjelaskan bahwa pemetaan risiko siber layanan publik dilakukan mengacu pada PP No.82/2022. Ia menegaskan bahwa interdependensi antarsektor membuat dampak serangan dapat menyebar berantai ke layanan lain.

Dalam situasi seperti itu, kecepatan mengenali risiko menjadi faktor yang sangat menentukan. Serangan digital bisa berkembang cepat, sehingga keterlambatan deteksi dapat memperbesar dampak dan menyulitkan pemulihan layanan yang terdampak.

Karena itu, BSSN menjalankan sejumlah langkah untuk memperkuat keamanan siber dan sandi nasional. Upaya tersebut mencakup identifikasi risiko hingga strategi penanganan ketika insiden terjadi, dengan tujuan menjaga layanan tetap terkendali saat ancaman muncul.

Tekanan di sektor keuangan makin besar

Perbankan menjadi salah satu sektor yang paling sering disorot dalam pembahasan pertahanan digital karena mengelola data sensitif dan transaksi bernilai tinggi. Kondisi itu membuat perlindungan berlapis menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

BNI menempatkan kelima pilar tadi sebagai kerangka untuk menjaga layanan tetap aman dan stabil. Perlindungan, deteksi, respons, dan pemulihan disusun agar bank tidak hanya siap menahan serangan, tetapi juga cepat menormalkan sistem setelah insiden.

Poin pemulihan menjadi sama pentingnya dengan pencegahan. Di tengah ketergantungan nasabah pada layanan digital, kemampuan kembali normal dengan cepat menjadi bagian inti dari ketahanan operasional bank.

Resiliensi digital jadi isu lintas sektor

Forum tersebut juga menunjukkan bahwa keamanan siber tidak bisa dibaca sebagai urusan teknologi semata. Isu ini telah masuk ke ranah ketahanan nasional karena satu insiden di sektor tertentu berpotensi menimbulkan efek yang lebih luas dari yang terlihat di permukaan.

Pembahasan di forum itu menghadirkan pula Datacenter Cybersecurity Program & Product Manager Uptime Institute, Lanre Rotimi, serta SCyber Security Consultant Sangfor Technologies Indonesia, Akhmad Rezha. Diskusi dipandu oleh Shafinaz Nachiar dan menyoroti pentingnya konektivitas yang dibarengi resiliensi siber.

Bagi sektor keuangan, tantangannya tetap kompleks karena layanan harus aman sekaligus mudah diakses. Di tengah kondisi itu, lima pilar yang diterapkan BNI memperlihatkan bahwa keamanan digital perlu dikelola sebagai proses berkelanjutan, bukan sekadar langkah sesaat.

Source: www.cnbcindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru