Selat Hormuz memasuki fase yang lebih tegang sekaligus lebih diplomatis setelah Iran dan Oman menyusun ulang aturan pelayaran di jalur strategis itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut konsultasi kedua negara menghasilkan kesepakatan yang memuaskan dan membuka kemungkinan pernyataan bersama dalam waktu dekat.
Araghchi juga menegaskan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali sama seperti sebelumnya. Iran mendorong kerangka hukum baru yang dinilai sesuai dengan hukum internasional untuk mengatur lalu lintas pelayaran di salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Biaya Layanan dan Kepentingan Iran
Dalam pernyataan yang sama, Iran membuka peluang penerapan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintas, meski tidak akan memberlakukan bea masuk. Sinyal itu menunjukkan Teheran ingin memperkuat posisi hukumnya atas selat yang menjadi nadi perdagangan minyak dan energi global.
Pemerintah Iran juga disebut dapat segera menerbitkan program bersama dengan Oman. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan tidak berhenti pada isu teknis pelayaran, tetapi juga menyentuh tata kelola kawasan yang lebih luas.
Dorongan Damai di Tengah Tekanan Militer
Perkembangan ini berlangsung bersamaan dengan laporan meningkatnya tekanan militer dari Amerika Serikat. Disebutkan bahwa militer AS pernah menyiapkan operasi darat mendesak untuk merebut cadangan uranium Iran yang diperkaya tinggi.
Laporan itu menyebut Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine sempat melakukan kunjungan rahasia ke Komando Pusat AS di Florida pada akhir Mei untuk mematangkan rencana tersebut. Namun, Presiden Donald Trump memutuskan menunda operasi itu karena khawatir perang berkepanjangan dapat memicu guncangan ekonomi global.
Arah Negosiasi ke Kesepakatan
Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa poin-poin akhir perjanjian damai telah disepakati semua pihak, termasuk Israel. Penandatanganan nota kesepahaman atau MoU disebut akan berlangsung pada akhir pekan ini di Eropa.
Meski demikian, Iran tetap menegaskan sejumlah syarat sebelum kesepakatan benar-benar final. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf meminta AS memenuhi komitmen tanpa syarat agar proses tidak berhenti di tengah jalan.
Berdasarkan laporan Mehr News Agency, syarat utama Iran mencakup pembebasan setengah dari dana Iran yang diblokir di luar negeri, penangguhan sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran, dan pencabutan blokade maritim terhadap Iran.
Dampak ke Jalur Energi Dunia
Perubahan di Selat Hormuz menjadi penting karena jalur ini langsung memengaruhi stabilitas ekonomi global. Jika kesepakatan damai benar-benar terwujud, kawasan Teluk berpotensi memasuki fase yang lebih stabil setelah periode panjang ketegangan.
Oman kembali tampil sebagai mitra dialog yang krusial dalam menjaga agar jalur strategis tersebut tetap terbuka. Bagi Iran, pengaturan ulang tata kelola pelayaran menjadi alat diplomasi sekaligus sarana untuk menegaskan kepentingannya di kawasan.
