Di tengah riuh myBCA International Java Jazz Festival 2026, Incognito membawa pesan yang jauh lebih besar dari sekadar pertunjukan acid jazz. Band asal Inggris Raya itu menjadikan panggung myBCA Hall sebagai ruang untuk merayakan kebersamaan dan menolak perpecahan di hadapan penonton lintas generasi.
Penampilan mereka berlangsung sekitar 1 jam 15 menit mulai pukul 21.45 WIB dan menjadi salah satu sorotan paling kuat pada hari pertama festival. Energi panggung yang mereka hadirkan terasa hangat, padat, dan terus mengalir dari awal sampai akhir set.
Pesan yang dibawa dari panggung
Jean-Paul “Bluey” Maunick tidak langsung menyorot lagu-lagu yang akan dimainkan. Ia lebih dulu memperkenalkan satu per satu musisi yang ikut tampil, lalu mengajak penonton masuk ke kisah masa kecilnya di Kepulauan Mauritius.
Bluey bercerita tentang wilayah penghasil tebu itu sebagai tempat yang menyimpan kenangan tentang sakit, kesulitan, dan harapan. Ia juga mengenang momen ketika musisi datang dan bermain di wilayahnya, lalu musik perlahan membuat orang-orang yang sebelumnya terbaring dan tak mampu bergerak ikut bangkit dan menari.
“Itulah alasan saya terus bermain musik sampai sekarang, karena yang saya inginkan adalah membuat nenek saya merasa lebih baik,” kata Bluey.
Dari nostalgia ke lantai dansa
Setelah pembuka yang personal, suasana panggung berubah cepat. Dentuman bass yang dalam masuk bersama brass section yang energik, lalu menggeser nuansa konser dari cerita nostalgia menjadi perayaan yang penuh groove.
Incognito kemudian membuka set dengan “Don’t You Worry,” “Running Away,” dan “Can’t Be a Fool.” Tiga lagu itu segera membangun ritme yang akrab sekaligus menjaga tenaga pertunjukan tetap tinggi sejak awal.
Karakter acid jazz mereka terasa kuat melalui permainan instrumen langsung yang solid. Bass tebal, tiupan brass, dan alur musik yang terus bergerak membuat penonton mudah larut dalam suasana yang dibangun band ini.
Saat panggung jadi ruang untuk menolak perpecahan
Salah satu momen yang paling menarik perhatian terjadi ketika Incognito membawakan “Still a Friend.” Dalam lagu itu, Bluey mengajak Salwa Aristotle, pemain saksofon dengan disabilitas fisik, untuk tampil bersama di atas panggung.
Interaksi dengan penonton juga memberi warna penting dalam konser ini. Bluey sempat mengajak sisi “A” dan “B” untuk bernyanyi lalu saling menilai, tetapi ia segera mengingatkan agar panggung tidak berubah menjadi ruang perpecahan.
Ketika respons penonton justru berupa seruan “boo” kepada kelompok lain, Bluey menegaskan bahwa perpecahan tidak boleh terjadi di panggungnya. Saat pertanyaan yang sama diulang, suasana berubah lebih positif dan penonton menjawab dengan sorakan penuh semangat.
“Inilah dunia yang ingin saya tinggali, yang tak dirusak perbedaan, politik, atau apa pun. Jadi mari kita bernyanyi bersama,” ujarnya.
Deretan lagu yang menjaga energi tetap hidup
Selain lagu pembuka, Incognito juga membawakan “Reasons to Love,” “1993,” hingga “Everyday.” Repertoar itu membuat aliran konser tetap stabil dan mempertahankan karakter khas mereka sepanjang pertunjukan.
Penonton beberapa kali ikut bernyanyi dan bergerak mengikuti irama yang terus mengalir. Atmosfer di dalam venue pun terasa hangat dan riuh, dengan energi yang terjaga sampai akhir set.
Penampilan Incognito di Java Jazz Festival 2026 memperlihatkan bahwa mereka masih punya tenaga panggung yang kuat. Di tengah musik yang rancak, mereka menempatkan kebersamaan sebagai inti pertunjukan dan kembali menegaskan posisi mereka sebagai nama penting dalam acid jazz dan soul dunia.
Source: lifestyle.bisnis.com