Tekanan perang Iran membuat para menteri keuangan dan bank sentral G7 di Paris harus memikirkan dampaknya lebih luas dari sekadar kawasan Timur Tengah. Salah satu perhatian terbesar mereka adalah bagaimana gejolak itu dapat cepat merambat ke pasar energi, obligasi global, dan negara-negara yang paling rentan.
Dalam pembahasan itu, Prancis mendorong IMF dan Bank Dunia bergerak lebih cepat untuk membantu negara yang paling terdampak. Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan ada kesepahaman bahwa lembaga multilateral itu perlu memperkuat dukungan, terutama karena kekurangan pupuk dapat memukul banyak negara.
Risiko energi jadi perhatian utama
Kekhawatiran terbesar tetap tertuju pada kemungkinan terganggunya pasokan energi jika Selat Hormuz tertutup. Jalur air itu sangat penting bagi pasar energi, dan sejumlah negara G7 menilai risikonya nyata.
Para pejabat juga membahas volatilitas pasar obligasi global yang ikut terpengaruh oleh ketegangan tersebut. Di saat yang sama, mereka melihat bahwa konflik Iran bisa menekan stabilitas pasar dalam waktu singkat jika situasi terus memburuk.
Trump, Iran, dan perbedaan pandang di G7
Dari sisi perkembangan terbaru di Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa ia menunda serangan yang direncanakan terhadap Iran. Keputusan itu muncul setelah Teheran mengirim proposal damai ke Washington.
Trump juga menyebut ada “very good chance” untuk mencapai kesepakatan yang membatasi program nuklir Iran. Namun, beberapa negara G7 lain menilai Washington dan Israel telah melancarkan serangan ke Iran tanpa cukup mempertimbangkan dampak ekonominya.
Dorongan kerja sama yang lebih luas
Pertemuan di Paris tidak hanya dihadiri anggota G7. Sejumlah negara Teluk, Brasil, Kenya, Suriah, dan Ukraina juga ikut dalam sebagian diskusi untuk membahas situasi yang berkembang.
Qatar dan Uni Emirat Arab hadir untuk membahas krisis di Teluk, sementara pejabat dari Brasil, India, dan Korea Selatan juga terlibat. Kehadiran mereka menunjukkan dorongan G7 untuk memperluas kemitraan internasional di tengah ketegangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan.
Bahan baku strategis ikut masuk agenda
Selain soal Iran, para menteri juga menyoroti diversifikasi pasokan rare earths dan mineral kritis. Isu itu menjadi bagian dari agenda presidensi G7 Prancis karena kelompok ini ingin mengurangi kerentanan rantai pasok global.
Lescure menilai ketidakseimbangan ekonomi dunia ikut memicu gesekan dagang dan dapat mengguncang pasar keuangan. Ia menggambarkan pola ketika China terlalu sedikit mengonsumsi, Amerika Serikat terlalu banyak mengonsumsi, dan Eropa kurang berinvestasi.
Eropa diminta lebih tegas
Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil juga meminta Eropa lebih tegas mempertahankan kepentingannya. Ia memperingatkan agar Eropa tidak menjadi pihak yang dirugikan saat pihak lain mengubah aturan main.
Pada isu mineral kritis dan rare earths, G7 berupaya mengoordinasikan langkah untuk mengurangi ketergantungan pada China. Negara itu menguasai rantai pasok penting bagi kendaraan listrik, energi terbarukan, dan sistem pertahanan.
Komisioner Ekonomi Uni Eropa Valdis Dombrovskis mengatakan G7 sudah membuat kemajuan dalam kemitraan bahan baku. Meski begitu, ia menekankan bahwa prosesnya tidak akan selesai dalam waktu singkat dan masih membutuhkan persiapan yang memadai.
Tekanan ke Rusia tetap dijaga
Dombrovskis juga menegaskan bahwa tekanan terhadap Rusia harus terus dipertahankan. Sikap itu mengemuka setelah Amerika Serikat mengumumkan perpanjangan 30 hari lagi untuk keringanan sanksi yang memungkinkan pembelian minyak Rusia lewat laut demi membantu negara-negara yang rentan terhadap krisis energi.
Dari sudut pandang Uni Eropa, ia mengatakan bukan waktunya melonggarkan tekanan kepada Moskow. Ia menyebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberi sinyal bahwa langkah itu hanya bersifat sementara, meski ini sudah menjadi perpanjangan kedua dari kebijakan tersebut.
Pertemuan di Paris memperlihatkan bagaimana G7 berusaha menangani banyak sumber risiko sekaligus dalam satu forum. Dari perang Iran, ancaman terhadap pasokan energi, ketergantungan bahan baku, hingga tekanan terhadap Rusia, para pejabat mencari respons yang tidak berhenti pada langkah darurat, tetapi juga menjaga ketahanan ekonomi global.
