Di Ukraina, Robot Humanoid Amerika Diuji Untuk Mengantar Pasokan Di Medan Berbahaya

Uji coba robot humanoid buatan Amerika Serikat di Ukraina menambah satu lapisan baru dalam perang yang sudah dipenuhi drone, sistem otonom, dan teknologi minim campur tangan manusia. Phantom MK-1, robot buatan Foundation Future Industries, kini diuji untuk membantu tugas logistik di wilayah berisiko tinggi dan bukan untuk pertempuran langsung.

Robot berbentuk manusia itu dirancang agar bisa berjalan dengan dua kaki, menggunakan dua tangan, menaiki tangga, membuka pintu, dan berpindah antarruangan. Kemampuan tersebut membuatnya cocok beroperasi di tempat yang sudah dibangun untuk manusia, tanpa perlu perubahan besar pada fasilitas yang ada.

Fokus awal masih logistik dan misi berbahaya

Pengujian Phantom MK-1 di Ukraina masih diarahkan ke pekerjaan yang paling rawan bagi tentara. CNBC melaporkan bahwa robot ini dipakai untuk skenario logistik di area berisiko tinggi, termasuk membawa perlengkapan, mengangkut amunisi, mengambil barang dari lokasi berbahaya, membantu evakuasi korban luka, dan melakukan pengintaian.

Pendekatan itu menempatkan robot sebagai alat bantu, bukan pengganti tentara. Tujuan utamanya adalah mengurangi paparan langsung personel militer terhadap ancaman di garis depan.

Ukraina jadi tempat uji paling aktif

Pemilihan Ukraina tidak lepas dari situasi perang yang terus membuka ruang bagi teknologi baru. Sejak invasi Rusia pada 2022, negara itu berkembang menjadi salah satu lokasi paling aktif untuk pengujian sistem militer modern.

Di sana, berbagai perangkat telah dicoba, mulai dari drone, peperangan elektronik, kendaraan tanpa awak, hingga aplikasi kecerdasan buatan untuk kebutuhan militer. Melalui program “Test in Ukraine”, ratusan perusahaan pertahanan dari berbagai negara juga ikut mengajukan sistem mereka untuk diuji oleh militer Ukraina.

CEO Foundation Future Industries, Sankaet Pathak, menilai pengujian Phantom MK-1 memberi gambaran nyata tentang potensi robot humanoid untuk tugas pengambilan dan pengiriman pasokan. Ia juga melihat cepatnya umpan balik dari medan perang sebagai keuntungan besar bagi pengembang.

Bukan robot tempur penuh, tapi langkah berikutnya sudah disiapkan

Meski perhatian publik sering tertuju pada bayangan robot perang, Phantom MK-1 belum diarahkan ke peran tempur garis depan. Versi awalnya masih menghadapi sejumlah batasan, termasuk daya tahan baterai, kapasitas angkut, ketahanan terhadap cuaca ekstrem, dan kemampuan menangani objek yang rumit.

Foundation Future Industries sudah menyiapkan Phantom MK-2 sebagai penerus. Robot itu diklaim memiliki kapasitas angkut lebih besar, ketahanan air yang lebih baik, elektronik yang lebih stabil, daya tahan operasional lebih lama, serta gerak yang lebih cepat dan fleksibel.

Perusahaan menyebut Phantom MK-2 nantinya bisa membawa beban hingga sekitar 175 pon atau hampir 80 kilogram. Namun, kemampuan fisik itu masih jauh dari tantangan terbesar di medan perang, yaitu pengambilan keputusan yang melibatkan pertimbangan moral, emosional, dan situasional.

Pentagon dan arah baru perang modern

Ketertarikan Amerika Serikat pada robot humanoid bukan hal yang tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, Pentagon sudah banyak berinvestasi pada sistem robotik untuk menekan risiko bagi personel militer.

AS sebelumnya mengembangkan robot penjinak bom, kendaraan tanpa awak, drone tempur, dan eksoskeleton untuk meningkatkan mobilitas prajurit. Robot humanoid kini dipandang sebagai tahap lanjutan karena dapat bekerja di ruang yang memang dirancang untuk manusia.

Dorongan itu juga terkait persaingan geopolitik yang makin ketat. Washington disebut ingin menjaga keunggulan strategis atas rival seperti Rusia dan China lewat teknologi yang lebih canggih.

Ukraina lebih dulu mengandalkan sistem tanpa awak

Robot humanoid bukan satu-satunya teknologi yang mengubah wajah perang di Ukraina. Sejak 2024, militer Ukraina semakin banyak memakai unmanned ground vehicle atau UGV dalam berbagai misi.

Robot darat tanpa awak itu digunakan untuk mengirim logistik, mengevakuasi korban luka, menanam ranjau, melakukan pengintaian, hingga membawa sistem persenjataan otomatis. Volodymyr Zelenskyy bahkan pernah menyebut pasukannya merebut posisi Rusia dengan kombinasi drone udara dan robot darat tanpa infanteri langsung.

Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan misi disebut telah dijalankan menggunakan sistem robotik dan drone. Kondisi itu membuat Ukraina dipandang sebagai salah satu pionir dalam peperangan tanpa awak modern.

Di saat yang sama, penggunaan robot tempur tetap memunculkan kekhawatiran. Sejumlah pihak menyoroti kesulitan mesin dalam membedakan kombatan dan warga sipil, memahami konteks lapangan, serta menentukan siapa yang bertanggung jawab atas tindakan di medan perang. Hingga kini, kebijakan militer AS masih menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan akhir untuk penggunaan kekuatan mematikan.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait