Dinas Pendidikan Jawa Barat memastikan program Sekolah Maung tidak mengubah identitas sekolah negeri yang terlibat di dalamnya. SMAN 3 Bandung, SMAN 5 Bandung, dan sekolah unggulan lain tetap memakai nama asli mereka meski masuk dalam program tersebut.
Kepala Disdik Jabar Purwanto menegaskan bahwa Sekolah Maung adalah program transformasi pendidikan, bukan pergantian nama sekolah. Menurut dia, yang diperbarui adalah sistem dan kualitas layanan, sementara nomenklatur sekolah tetap dipertahankan.
Penegasan itu sekaligus menjawab spekulasi yang muncul setelah Pemprov Jabar menggulirkan program Sekolah Manusia Unggul atau Maung di 41 sekolah negeri. Program tersebut mencakup 28 SMA dan 13 SMK yang ditunjuk sebagai penyelenggara.
Purwanto menyebut sekolah-sekolah itu akan tetap dikenal dengan nama lama yang sudah dikenal masyarakat. Ia mencontohkan SMA 5, SMA 3, SMA 1 Purwakarta, dan SMA 1 Garut sebagai identitas yang tetap dipakai.
Meski nama tetap utuh, sekolah-sekolah itu akan diberi penanda sebagai penyelenggara Sekolah Maung. Dengan begitu, status program melekat pada sekolah tanpa menghapus nama yang sudah lebih dulu dikenal publik.
Fokus pada pembenahan layanan
Disdik Jabar menempatkan Sekolah Maung sebagai upaya penguatan mutu pendidikan di sekolah negeri unggulan. Arah program ini bukan untuk mengganti identitas, melainkan untuk memperbaiki layanan pendidikan dari dalam.
Purwanto juga menolak anggapan bahwa program ini akan membuat sekolah negeri menjadi eksklusif. Ia menilai siswa berprestasi justru membutuhkan layanan pendidikan yang lebih optimal agar proses belajarnya berjalan lebih baik.
Pembenahan yang disiapkan tidak berhenti pada satu sisi saja. Program ini menyentuh pola penerimaan siswa, kurikulum, tata kelola, pembiayaan, kualitas tenaga pengajar, dan fasilitas pendidikan.
Latar belakang dorongan program
Purwanto mengaitkan penguatan layanan di sekolah negeri unggulan dengan perubahan pilihan sebagian keluarga dari kalangan menengah atas. Menurut dia, sebagian di antara mereka mulai beralih ke sekolah swasta karena menilai layanan yang diterima lebih baik.
Situasi itu menjadi salah satu alasan pemerintah daerah menguatkan kembali layanan di sekolah negeri. Disdik Jabar ingin sekolah negeri tetap menjadi pilihan utama tanpa kehilangan nama besar yang selama ini sudah dikenal luas.
Karena itu, transformasi dalam Sekolah Maung diarahkan pada substansi layanan pendidikan. Nama sekolah dipertahankan, sedangkan pembenahan difokuskan pada mutu proses belajar, pengelolaan sekolah, dan dukungan fasilitas.
Penjelasan resmi ini dinilai penting karena menyangkut sekolah-sekolah yang sudah punya reputasi kuat di Jawa Barat. Di tengah perhatian publik terhadap program baru tersebut, Disdik Jabar menegaskan bahwa perubahan yang terjadi berada pada kualitas layanan, bukan pada identitas sekolah.
Source: www.detik.com






