Sorotan terhadap Rashtriya Swayamsevak Sangh atau RSS kini tidak hanya datang dari dalam India, tetapi juga dari luar negeri. Saat tuduhan keterlibatan dalam kekerasan terhadap kelompok minoritas makin keras, organisasi Hindu sayap kanan terbesar di India itu justru aktif mendekati Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat.
Langkah tersebut memperlihatkan upaya RSS menjaga citra di tengah tekanan yang terus meningkat. Di saat yang sama, kritik soal kebebasan beragama dan perlindungan minoritas di India ikut membuat setiap gerak organisasi itu di panggung internasional semakin diperhatikan.
Tekanan paling besar datang dari isu intoleransi terhadap Muslim dan Kristen. India Hate Lab yang berbasis di Amerika menyebut insiden ujaran kebencian terhadap minoritas naik 13% sepanjang 2025, dengan sebagian besar kasus terjadi di wilayah yang dipimpin BJP.
Komunitas Kristen juga mengalami peningkatan tekanan yang jelas. Laporan ujaran kebencian terhadap kelompok ini naik dari 115 kasus pada 2024 menjadi 162 kasus pada 2025, atau sekitar 41%.
Raqib Hameed Naik, pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Center for the Study of Organized Hate, menilai situasi itu menunjukkan pola yang makin mengkhawatirkan. Ia menyebut ada peningkatan kejahatan berbasis kebencian, pembongkaran paksa menggunakan buldoser, undang-undang diskriminatif, dan ujaran kebencian terhadap komunitas minoritas.
Di lapangan, warga Muslim juga disebut menjadi korban pengeroyokan massa sejak 2015, terutama terkait isu peternakan sapi atau tuduhan mengonsumsi daging sapi. Serangkaian kasus itu ikut memperkuat perhatian terhadap posisi minoritas di India.
Jaringan besar dan pengaruh politik RSS
RSS berdiri pada 1925 di Nagpur, Maharashtra, oleh Keshav Baliram Hedgewar. Nama RSS berasal dari bahasa Hindi yang berarti Organisasi Sukarelawan Nasional, dan gerakan ini aktif di bidang pendidikan, layanan kesehatan, penerbitan buku, hingga media.
Organisasi ini mendorong ideologi Hindutva, yakni nasionalisme Hindu yang menempatkan identitas Hindu sebagai dasar utama kehidupan bangsa India. RSS juga memimpin jaringan lebih dari 2.500 kelompok Hindu sayap kanan yang dikenal sebagai Sangh Parivar.
Pengaruh RSS meluas karena kerap disebut sebagai induk ideologis Partai Bharatiya Janata atau BJP yang kini memerintah India. Perdana Menteri Narendra Modi diketahui bergabung dengan RSS sejak 1972 sebelum masuk ke BJP pada 1987.
Kedekatan politik itu membuat sorotan terhadap RSS ikut merembet ke pemerintah India. Karena itu, kritik mengenai kebebasan beragama dan perlindungan minoritas tidak hanya memengaruhi citra organisasi, tetapi juga ikut membayangi lanskap politik yang lebih luas.
Mendekati Barat untuk meredakan salah paham
Di tengah tekanan tersebut, Sekretaris Jenderal RSS Dattatreya Hosabale mengatakan pihaknya telah bertemu berbagai pihak di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Ia menyebut rangkaian pertemuan itu sebagai upaya menghapus kesalahpahaman yang berkembang di luar India.
Di Inggris, Hosabale melakukan kunjungan selama enam hari dan bertemu dengan lembaga seperti Chatham House serta Royal Institute of International Affairs. Ia juga menghadiri jamuan makan malam bersama anggota parlemen dari Partai Konservatif, Partai Buruh, dan Partai Liberal Demokrat.
Setelah itu, Hosabale melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat selama 10 hari. Di sana, ia berdiskusi dengan komunitas Hindu-India di sejumlah kota dan menghadiri forum di Hudson Institute, lembaga pemikir konservatif yang berbasis di Washington DC.
Kunjungan berikutnya berlangsung di Jerman. Hosabale berbicara dengan German Institute for International and Security Affairs serta Konrad Adenauer Foundation yang berafiliasi dengan Partai Demokrat Kristen Jerman.
Tekanan baru dari laporan resmi Amerika Serikat
Pendekatan RSS ke Barat menguat setelah US Commission on International Religious Freedom atau USCIRF merilis laporan pada November 2025. Laporan itu menuduh RSS terlibat dalam intoleransi ekstrem dan kekerasan terhadap kelompok minoritas selama beberapa dekade.
USCIRF bahkan merekomendasikan sanksi terarah terhadap RSS dan para pemimpinnya. Rekomendasi itu didasarkan pada dugaan keterlibatan dalam perseksekusi sistematis terhadap kelompok minoritas di India.
Di satu sisi, RSS berusaha menepis kritik dan memperluas pengaruh di panggung internasional. Di sisi lain, isu intoleransi terhadap minoritas terus membayangi setiap langkah diplomasi organisasi tersebut di Barat.
Source: www.beritasatu.com






