Dividen Astra Dipangkas 3,9 Persen, Rudy Resmi Ambil Alih Kursi Presiden Direktur

PT Astra International Tbk menetapkan Rudy sebagai Presiden Direktur dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4). Keputusan ini menempatkan Rudy di posisi teratas kepemimpinan perseroan setelah sebelumnya menjabat Wakil Presiden Direktur, sekaligus membuka babak baru bagi arah pengelolaan Astra hingga 2027.

Pergantian pucuk pimpinan itu datang bersamaan dengan keputusan pembagian dividen tunai yang tetap besar, meski nilainya lebih rendah dibanding tahun buku sebelumnya. Bagi pemegang saham, dua langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Astra sedang merapikan formasi pengurus sambil tetap menjaga komitmen atas pembagian laba.

Komposisi pengurus baru

Selain Rudy, rapat pemegang saham juga menyetujui perubahan di jajaran direksi dan komisaris. Siswadi dan Djap Tet Fa masuk sebagai direktur baru untuk memperkuat susunan manajemen yang akan menjalankan agenda operasional dan strategi perusahaan ke depan.

Di level pengawasan, Prijono Sugiarto kembali dipercaya sebagai Presiden Komisaris. Astra juga menambah dua komisaris independen, yakni Muhamad Chatib Basri dan Pariya Tangtongpairath, untuk memperkuat tata kelola dan fungsi pengawasan perusahaan.

Susunan terbaru ini memperlihatkan perpaduan antara nama lama dan wajah baru dalam struktur kepemimpinan Astra. Bagi perusahaan besar seperti Astra, komposisi pengurus sering dipandang pasar sebagai petunjuk penting mengenai prioritas bisnis dan kesinambungan strategi.

Daftar pengurus Astra yang baru disetujui

  • Presiden Komisaris: Prijono Sugiarto
  • Komisaris Independen: Muhamad Chatib Basri
  • Komisaris Independen: Pariya Tangtongpairath
  • Presiden Direktur: Rudy
  • Direktur: Siswadi
  • Direktur: Djap Tet Fa

Formasi tersebut menempatkan Rudy di pusat pengambilan arah perseroan pada periode berikutnya. Di sisi lain, keberadaan nama-nama baru di direksi dan komisaris menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara pengalaman dan penyegaran struktur.

Dividen tetap besar meski turun

Di rapat yang sama, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai total Rp15,68 triliun. Jumlah itu setara dengan 47,6 persen dari laba bersih konsolidasian Astra yang mencapai Rp32,76 triliun.

Jika dihitung per saham, dividen yang diberikan mencapai Rp390. Angka ini memang masih tergolong besar, tetapi turun 3,9 persen dibanding pembagian untuk tahun buku 2024 yang sebesar Rp406 per saham.

Laporan idnfinancials.com menyebut dividen interim sebesar Rp98 per saham telah dibayarkan pada 31 Oktober 2025. Adapun sisa dividen final sebesar Rp292 per saham dijadwalkan cair pada 25 Mei 2026.

Untuk menerima dividen final tersebut, pemegang saham harus tercatat pada recording date 6 Mei 2026. Setelah seluruh pembagian selesai, Astra menetapkan sekitar Rp17,09 triliun sebagai laba ditahan.

Dana laba ditahan itu akan tetap berada di dalam perusahaan dan dapat digunakan untuk mendukung operasional maupun kebutuhan strategi bisnis berikutnya. Pola ini menunjukkan keseimbangan yang dijaga Astra antara imbal hasil bagi investor dan penguatan internal perusahaan, terutama di tengah transisi kepemimpinan yang kini sudah resmi dimulai di bawah Rudy.

Berita Terkait