Rupiah bergerak melemah dan pagi ini sempat menyentuh level Rp 17.959 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.26 WIB, mata uang Garuda turun 29 poin dari posisi sebelumnya.
Tekanan tersebut muncul saat dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang Asia. Kondisi ini membuat rupiah masuk ke jajaran mata uang regional yang berada di zona merah pada perdagangan pagi.
Tekanan Meluas di Pasar Asia
Penguatan dolar AS paling besar terlihat terhadap won Korea Selatan. Mata uang itu melemah 0,80% hingga membuat kurs dolar AS berada di level 1.519,61 won.
Rupee India juga berada di bawah tekanan setelah turun 0,51% ke level 95,7563 rupee per dolar AS. Di kawasan yang sama, peso Filipina melemah 0,44% ke level 61,09 peso.
Sejumlah Mata Uang Regional Ikut Tertekan
Di Asia, ringgit Malaysia turun 0,19% ke level 4,0592 ringgit per dolar AS. Dolar Taiwan juga melemah 0,18% ke level 31,681 dolar Taiwan, sedangkan yuan China turun 0,13% ke level 6,7655 yuan per dolar AS.
Rupiah tercatat melemah 0,16% pada pagi ini. Pergerakan itu menunjukkan tekanan dolar AS masih merata di berbagai pasar negara berkembang di kawasan.
Asia Tenggara dan Yen Jepang
Di Asia Tenggara, dolar Singapura ikut bergerak di bawah tekanan pasar. Pasangan USD/SGD naik 0,09% ke level 1,285, yang menandakan pelemahan dolar Singapura terhadap dolar AS.
Baht Thailand juga terkoreksi tipis setelah pasangan USD/THB naik 0,08% menjadi 32,823 baht per dolar AS. Sementara itu, yen Jepang bergerak berbeda dengan sejumlah mata uang regional lainnya.
Pasangan USD/JPY naik ke level 160,26 yen, sementara nilai tukar yen terhadap ringgit Malaysia menguat 0,36%. Pergerakan ini memperlihatkan dinamika yang tidak seragam di pasar mata uang Asia pada sesi pagi.
Pelaku pasar kini menunggu perkembangan terbaru dari Amerika Serikat terkait arah kebijakan Federal Reserve. Selain itu, situasi geopolitik global masih menjadi salah satu faktor yang menjaga sentimen pasar tetap sensitif dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, rupiah masih menghadapi tekanan dari kekuatan dolar AS yang belum mereda. Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan global yang terus dipantau investor.
Source: www.beritasatu.com






