Dolar AS Makin Diburu, Ketegangan Timur Tengah dan Data Kuat AS Menekan Euro

Author: Redaksi Android62
Add on Google

Pergerakan euro kembali tertekan ketika pasar menempatkan dolar AS sebagai pilihan utama di tengah ketegangan Timur Tengah dan data ekonomi Amerika Serikat yang masih kuat. Sentimen itu membuat mata uang Eropa sempat berada di sekitar 1,16 dolar AS dan bergerak cepat mengikuti perubahan selera risiko pelaku pasar.

Dorongan terhadap dolar datang dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik membuat investor mencari aset yang dianggap aman, sementara di sisi lain data industri AS pada Mei menunjukkan ketahanan ekonomi yang tetap solid.

Dolar diuntungkan saat risiko naik

Pasar menilai peluang meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum terlihat jelas. Kondisi ini menjaga premi risiko tetap tinggi dan memperkuat minat terhadap dolar AS sebagai pelindung nilai ketika sentimen pasar memburuk.

Dalam situasi seperti ini, aliran dana sering bergerak ke aset yang dinilai lebih aman. Dolar pun mendapatkan tambahan tenaga dari faktor eksternal yang datang bersamaan dengan ketegangan di Timur Tengah.

Euro sempat turun ke sekitar 1,1617 dolar AS setelah sebelumnya berada sekitar setengah sen lebih tinggi pada pagi hari. Pergerakan cepat seperti ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar valas terhadap perubahan suasana risiko dan ekspektasi suku bunga.

Data AS menambah tekanan bagi euro

Dari sisi fundamental, data industri Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan ikut memperkuat posisi dolar. Indeks manajer pembelian untuk Mei berada di atas ekspektasi dan masih menandakan aktivitas ekonomi yang terus membaik.

Ulrich Wortberg dari Helaba menilai ketahanan ekonomi AS terhadap tantangan geopolitik ikut mengangkat spekulasi soal kenaikan suku bunga oleh The Fed. Pasar kemudian semakin fokus pada perbedaan arah kebijakan antara bank sentral Amerika Serikat dan Bank Sentral Eropa.

Bagi euro, kombinasi itu menjadi tekanan tambahan yang sulit diabaikan. Saat data AS memberi sinyal daya tahan ekonomi, ruang bagi mata uang Eropa untuk pulih justru semakin sempit.

Kurs acuan ECB belum banyak membantu

Bank Sentral Eropa menetapkan kurs referensi euro di 1,1646 dolar AS, sedikit lebih tinggi dibanding 1,1644 pada Jumat. Namun angka acuan itu tidak cukup kuat untuk mengubah arah perdagangan yang saat itu lebih digerakkan oleh arus order dan penyesuaian posisi pasar.

Di pasar valas, perubahan kecil kerap memicu aksi lindung nilai dalam waktu singkat. Karena itu, perhatian investor cenderung tertuju pada langkah The Fed dibanding kurs referensi yang ditetapkan ECB.

Tekanan pada euro juga terlihat pada pasangan mata uang lain. ECB mencatat kurs referensi euro terhadap pound Inggris di 0,86493, terhadap yen Jepang di 185,74, dan terhadap franc Swiss di 0,9128.

Minyak dan emas ikut memberi gambaran sentimen pasar

Laporan yang sama juga menyoroti pengaruh harga minyak dalam pergerakan sentimen. Kenaikan minyak dinilai lebih ringan bagi Amerika Serikat karena negara itu memiliki cadangan minyak besar, sedangkan kawasan euro lebih rentan terhadap tekanan biaya impor dan dampaknya pada inflasi.

Emas bergerak dalam suasana pasar yang serupa. Harga satu troy ounce emas terakhir tercatat sekitar 4.464 dolar AS dan berada sekitar 74 dolar di bawah level hari sebelumnya.

Dengan kondisi geopolitik yang belum mereda dan data ekonomi AS yang masih mendukung, pasar valas berpeluang tetap bergejolak. Pelaku pasar kini mengamati apakah dolar masih akan bertahan di atas euro dalam tekanan yang datang dari dua sisi sekaligus.

Source: www.it-boltwise.de
Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru