Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, dodol rumput laut masih diproduksi meski menghadapi cuaca yang tak menentu, keterbatasan bahan baku, dan pasar yang tidak selalu ramah. Produk yang dipasarkan dengan nama Dorula itu menjadi salah satu cara masyarakat pesisir mengubah komoditas lokal menjadi sumber cuan.
Usaha tersebut digerakkan oleh Mahdiah atau Nina, perempuan 56 tahun yang terus mempertahankan olahan rumput laut agar tetap punya tempat di pasar. Bagi Nina, Dorula bukan sekadar makanan oleh-oleh, melainkan bukti bahwa bahan baku lokal bisa diolah menjadi produk bernilai jual.
Produksi tradisional masih bergantung pada matahari
Hingga kini, proses pembuatan Dorula masih dilakukan secara tradisional. Pengeringan rumput laut mengandalkan panas matahari, sehingga kualitas dan kecepatan produksi sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
Dalam cuaca cerah, pengeringan dapat selesai sekitar tiga hari. Saat mendung atau hujan, prosesnya bisa memakan waktu hingga satu minggu dan membuat kebutuhan mesin pengering semakin terasa mendesak.
Ketergantungan pada cuaca juga membatasi jumlah produksi. Meski begitu, Nina tetap menjalankan usaha ini karena melihat rumput laut sebagai potensi lokal yang layak diolah menjadi produk unggulan daerah.
Pasar dan bahan baku sama-sama menantang
Tantangan Dorula tidak berhenti di dapur produksi. Nina mengatakan sebagian calon pembeli menilai dodol rumput laut terlalu manis, terutama di tengah perubahan selera konsumen yang kini lebih berhati-hati soal gula.
Persaingan dengan aneka camilan lain juga membuat produk ini harus berjuang lebih keras untuk mendapat tempat di pasar. Keluhan serupa, kata Nina, bahkan sudah muncul sejak ia berjualan di Balai Kota Jakarta.
Untuk menjawab kondisi itu, Nina mulai mengembangkan produk lain berbahan rumput laut, termasuk kerupuk rumput laut. Langkah ini diambil agar pilihan produk lebih beragam dan bisa menjangkau konsumen yang lebih luas.
Masalah lain datang dari sisi bahan baku. Produksi rumput laut di Kepulauan Seribu disebut tidak lagi sebanyak beberapa tahun lalu karena serangan hama dan cuaca ekstrem yang memengaruhi hasil panen pembudidaya.
Berawal dari pembinaan PKUR dan modal usaha
Perjalanan Dorula bermula dari program pemberdayaan UMKM melalui Program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat atau PKUR dari Yayasan Baitul Maal BRILiaN. Nina kemudian berhubungan dengan tim pendamping setelah bertemu relawan UMKM saat mengikuti bazar di Balai Kota Jakarta.
Dari pertemuan itu, tim BRI datang ke Pulau Panggang untuk membentuk kelompok usaha berbasis komoditas lokal. Kelompok yang dipimpin Nina mendapat pembinaan selama setahun, termasuk pelatihan pembukuan, pengelolaan usaha, dan bantuan modal.
Kelompok tersebut beranggotakan 10 perempuan dan menerima bantuan modal lebih dari Rp 40 juta. Dana itu dipakai untuk membeli bahan baku dan perlengkapan produksi seperti kompor, wajan, serta alat memasak lainnya.
Walau masa pendampingan kelompok itu telah berakhir dan para anggotanya kini melanjutkan usaha masing-masing, bekal pengetahuan yang diperoleh tetap menjadi dasar untuk menjaga usaha kecil mereka.
Lebih dari sekadar oleh-oleh pulau
Di kios-kios kecil, Dorula dijajakan sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke pulau. Namun bagi Nina, nilai produk ini lebih besar daripada fungsi wisata karena menjadi simbol upaya masyarakat kepulauan mengolah sumber daya yang ada agar bernilai ekonomi lebih tinggi.
Di tengah keterbatasan produksi, pasar yang berubah, dan pasokan rumput laut yang tidak stabil, Dorula tetap dipertahankan sebagai bentuk optimisme. Nina menegaskan, selama masih ada yang membeli dan mencoba, usaha itu akan terus dijalankan.
Dukungan juga datang dari layanan keuangan yang menjangkau wilayah kepulauan, termasuk Kapal Bahtera Seva I. Nina mengaku bersyukur karena layanan BRI bisa hadir di pulau-pulau seperti Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Tidung, hingga Pulau Untung Jawa.
Layanan itu meliputi pembukaan rekening, setor dan tarik tunai, pergantian kartu ATM, pencairan bantuan sosial, hingga pengajuan Kredit Usaha Rakyat. Bagi masyarakat kepulauan, kehadiran layanan tersebut membantu perputaran uang dan memberi ruang bagi usaha kecil seperti Dorula untuk tetap bertahan.
Source: www.beritasatu.com






