Dua Jalan Meredakan Tekanan Di Selat Hormuz, Diplomasi Atau Pukulan Militer AS

Torbjorn Soltvedt, analis utama Timur Tengah dari perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, menilai hanya ada dua jalan keluar yang masih realistis untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Menurut dia, salah satunya adalah kesepakatan diplomatik formal antara Amerika Serikat dan Iran, sedangkan opsi lain adalah eskalasi konflik yang membuat kemampuan Iran untuk mengganggu pelayaran lumpuh secara signifikan.

Pandangan itu muncul ketika situasi di jalur sempit tersebut masih rapuh dan belum memberi banyak ruang bagi pelaku pelayaran untuk merasa aman. Iran terus mengirim sinyal bahwa kapal yang tidak mengikuti rute yang mereka setujui dapat menjadi sasaran, sehingga perusahaan pelayaran harus menimbang keselamatan kapal dan biaya operasional dalam waktu yang sama.

Tekanan terhadap pelayaran belum mereda

Soltvedt menilai eskalasi di lapangan menunjukkan niat Iran belum turun. Ia juga melihat serangan terbaru ke fasilitas di darat sebagai tanda bahwa ancaman terhadap pelayaran masih terbuka lebar.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan pelayaran internasional berada dalam posisi yang sulit. Ruang untuk mengurangi risiko dinilai terbatas, sementara gangguan kecil saja sudah cukup membuat pengiriman terganggu.

Selat kecil dengan dampak besar

Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia dan gas alam cair atau LNG global melintasi Selat Hormuz setiap hari. Angka itu memperlihatkan betapa besar ketergantungan pasar energi internasional terhadap satu jalur pelayaran yang sangat sempit.

Karena perannya sangat penting, setiap gangguan di kawasan ini langsung memunculkan kekhawatiran pasar energi. Jika pasokan tersendat, harga dapat terdorong naik dan tekanan inflasi ikut meningkat, sementara pasar keuangan menjadi lebih tidak stabil.

Upaya membuka jalur belum menyentuh inti masalah

Amerika Serikat pada Senin meluncurkan upaya untuk membuka kembali blokade agar kapal komersial bisa melintas bebas. Namun, langkah itu belum dianggap cukup karena persoalan utama tetap berada pada kesepakatan yang lebih mendasar.

Selama belum ada jaminan keamanan yang kuat, pelaku maritim diperkirakan tetap berhati-hati dalam menentukan rute pelayaran. Ketidakpastian di Selat Hormuz pun terus membuat pasar energi waspada karena perubahan kecil di kawasan itu dapat berdampak besar pada harga dan persepsi risiko global.

Dua skenario yang dinilai paling mungkin

Menurut Soltvedt, jalan pertama yang realistis adalah tercapainya kesepakatan diplomatik formal antara Amerika Serikat dan Iran. Jalan kedua adalah eskalasi yang membuat AS secara signifikan melumpuhkan kemampuan Iran dalam meluncurkan drone, rudal, dan memakai kapal cepat untuk mengganggu pelayaran.

Tanpa salah satu dari dua kondisi itu, pembukaan jalur secara permanen dinilai sulit terjadi. Karena itu, perkembangan diplomasi dan langkah militer di sekitar selat akan sangat menentukan apakah gangguan mereda atau justru terus membebani ekonomi global.

Selat Hormuz kini tidak lagi dipandang hanya sebagai isu keamanan regional. Kawasan ini sudah menjadi ancaman ekonomi global karena dampaknya bisa menyebar cepat ke pelaku industri, investor, dan pasar komoditas.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait