Hampir 100 personel militer Amerika Serikat mengalami cedera sejak AS kembali melancarkan perang dengan Iran pada 7 Juli. Sebagian besar dari mereka dilaporkan menderita gegar otak ringan, menurut data terbaru Kementerian Pertahanan AS.
Besarnya jumlah cedera ini menambah perhatian terhadap risiko yang dihadapi pasukan AS di kawasan konflik. Pentagon belum memerinci lokasi serangan maupun kondisi medis setiap personel yang terdampak.
Data Cedera Tidak Langsung Diumumkan
Juru bicara Pentagon menyampaikan bahwa data korban luka sempat tidak segera dipublikasikan. Penundaan itu dilakukan dengan pertimbangan keselamatan personel yang masih berada di lapangan.
Informasi tersebut sebelumnya juga diberitakan CNN Indonesia. Pengungkapan jumlah cedera kemudian menunjukkan bahwa dampak operasi dan serangan di kawasan lebih luas daripada yang semula diketahui publik.
| Periode | Data Korban | Keterangan |
|---|---|---|
| Sejak 7 Juli | Hampir 100 terluka | Mayoritas mengalami gegar otak ringan |
| Sejak 28 Februari | 17 tewas, 420 terluka | Data konflik menurut Al Jazeera |
| Akhir pekan lalu | 1 hilang | Setelah serangan ke asrama pangkalan AS di Yordania |
Rentang Data Korban Berbeda
Angka hampir 100 korban luka hanya mencakup periode sejak 7 Juli. Jumlah itu tidak dapat diperlakukan sebagai total seluruh korban dalam konflik AS dan Iran yang berlangsung dalam rentang lebih panjang.
Al Jazeera mencatat 17 personel AS tewas dan 420 lainnya terluka sejak 28 Februari. Perbedaan rentang waktu tersebut penting untuk menjelaskan skala dampak konflik terhadap personel militer AS.
Gegar otak ringan menjadi cedera yang paling banyak dilaporkan dalam data terbaru Pentagon. Kondisi ini memperlihatkan bahwa serangan di sekitar fasilitas dan operasi militer dapat berdampak serius meski tidak selalu langsung berujung fatal.
Tekanan Meningkat di Yordania
Risiko terhadap pasukan AS juga terlihat dalam serangan balasan Iran ke asrama pangkalan AS di Yordania pada akhir pekan lalu. Seorang personel masih dinyatakan hilang setelah insiden tersebut.
Dua personel militer AS telah dikonfirmasi tewas dalam serangan Iran di Yordania. Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan upacara pemulangan dan penghormatan bagi personel yang gugur akan berlangsung pada Rabu, 22 Juli.
Presiden Donald Trump sebelumnya diperkirakan menghadiri upacara itu. Ia juga memperingatkan Teheran akan “membayar mahal” atas tewasnya tiga personel militer AS dalam beberapa hari terakhir.
Data korban dari periode yang berbeda memperlihatkan ancaman terhadap personel AS masih berlanjut. Nasib satu personel yang hilang di Yordania pun belum dijelaskan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Source: www.cnnindonesia.com






