Duet Margie Segers Menutup Aksi Slank Di Java Jazz, Nostalgia 17 Tahun Pun Pecah

Author: Redaksi Android62

Momen paling ditunggu dari penampilan Slank di myBCA International Java Jazz Festival 2026 justru datang di bagian akhir. Band asal Gang Potlot itu menutup konser di Hall BCA dengan duet bersama Margie Segers, yang langsung menghadirkan suasana nostalgia dan disambut tepuk tangan meriah.

Kehadiran Margie menjadi penanda bahwa panggung jazz malam itu tidak hanya soal aransemen baru, tetapi juga pertemuan lintas generasi. Slank dan penyanyi senior tersebut membawakan “Semua Bisa Bilang” setelah Bimbim menyebut bahwa duet itu merupakan mimpi yang akhirnya terwujud di Java Jazz kali ini.

Energi tinggi sejak awal

Sebelum sampai ke momen penutup itu, Slank lebih dulu menghidupkan suasana dengan energi panggung yang padat. Ribuan penonton sudah menyambut kemunculan mereka dengan antusias, sementara Kaka tampil tanpa atasan dan memakai topi fedora saat membuka set dengan “Bang Bang Tut”.

Setelah itu, band langsung menyambungnya dengan “Tong Kosong” tanpa banyak jeda. Pembukaan yang cepat membuat penampilan mereka sejak awal terasa bergerak dengan tempo yang tegas.

Rock dan blues tetap jadi identitas

Meski tampil di festival jazz, Slank tidak melepas karakter musik yang selama ini melekat. Lagu-lagu lama mereka diolah lewat improvisasi instrumen, tetapi unsur rock dan blues tetap dijaga agar identitas band tidak hilang.

Kaka kemudian menyapa penonton yang memenuhi area panggung dan memperkenalkan “Mawar Merah” sebagai hadiah untuk mereka. Lagu populer itu pun hadir dengan sentuhan yang berbeda dari versi yang biasa dikenal pendengar.

Repertoar yang membawa cerita lama

Pertunjukan Slank juga menelusuri sejumlah fase dalam perjalanan karier mereka. Saat memperkenalkan “Poppies Lane Memory”, Bimbim menjelaskan bahwa lagu tersebut berasal dari Album 7 dan berkisah tentang masa lalu serta sebuah jalanan di Bali.

Nuansa sosial kemudian muncul ketika band masuk ke materi dari album Virus. Bimbim memperkenalkan lagu itu sebagai kisah tentang seseorang yang terjerumus narkoba hingga menjadi pekerja malam, sehingga bagian ini menjadi salah satu titik paling kuat dari sisi cerita yang dibawa ke panggung.

Sentuhan personal dan kejutan lagu lama

Emosi personal ikut hadir saat “Kupu-Kupu Liarku” dimainkan. Bimbim menyebut lagu itu membawa dirinya kembali ke masa remaja, sebelum Slank memberi kejutan dengan membawakan “Esok Kan Masih Ada” milik mendiang Utha Likumahuwa.

Pilihan lagu tersebut memberi warna lain di tengah set Slank. Kehadiran karya Utha juga terasa selaras dengan karakter Java Jazz yang kerap mempertemukan berbagai generasi dan ragam musik dalam satu panggung.

Kerinduan yang berjarak 17 tahun

Di tengah pertunjukan, Kaka mengingat kembali penampilan terakhir Slank di Java Jazz pada 2009. Ia menyebut jarak 17 tahun sejak momen itu dan menyinggung bahwa sebagian penonton muda mungkin baru lahir setelah penampilan tersebut, lalu mengawal “Terlalu Manis” dengan harmonika.

Lagu itu langsung memicu koor panjang dari penonton. Ribuan suara ikut bernyanyi, membuat bagian tersebut menjadi salah satu momen paling ramai dalam konser sore itu.

Setelah duet bersama Margie Segers, Slank masih melanjutkan penampilan dengan “I Miss You” dan “Seperti Para Koruptor”. Sesi pamungkas kemudian ditutup lewat jamming dan unjuk kemampuan masing-masing personel, menjaga energi panggung tetap tinggi sampai akhir pertunjukan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru