Samsung Galaxy A07 menjadi sorotan utama di kelas HP 1 jutaan karena menawarkan dukungan update OS hingga 6 tahun. Bagi pembeli yang mencari perangkat murah tetapi ingin dipakai lama, fitur ini langsung memberi nilai lebih yang jarang ditemukan di segmen entry-level.
Di tengah banyaknya pilihan lain yang mengandalkan baterai besar atau layar cepat, Samsung justru membawa keunggulan dari sisi ketahanan software. Dukungan jangka panjang seperti ini membuat Galaxy A07 terlihat lebih aman untuk penggunaan harian dalam waktu yang panjang, terutama bagi pengguna yang tidak ingin cepat ganti ponsel.
Update panjang jadi pembeda paling kuat
Di kelas harga satu jutaan, banyak model bersaing lewat angka spesifikasi yang terlihat menarik di atas kertas. Namun, Galaxy A07 menonjol karena tidak hanya mengandalkan harga terjangkau, tetapi juga komitmen pembaruan sistem yang panjang.
Keunggulan itu membuatnya punya posisi berbeda dibanding ponsel lain di kelas yang sama. Saat banyak perangkat entry-level biasanya kalah dalam urusan umur pakai software, Galaxy A07 justru tampil sebagai opsi yang lebih tenang untuk dipilih.
Performa harian tetap dirancang cukup solid
Selain soal update, Galaxy A07 juga dibekali chipset Helio G99. Kombinasi ini dipadukan dengan layar 6,7 inci berrefresh rate 90 Hz, sehingga pengalaman penggunaan terasa lebih mulus untuk kebutuhan umum.
Untuk aktivitas seperti media sosial, streaming, dan penggunaan ringan lain, spesifikasi tersebut sudah cukup mendukung. Di kelas harga murah, kehadiran layar dengan refresh rate tinggi juga memberi nilai tambah yang tidak selalu tersedia di ponsel sekelasnya.
Baterai besar masih menjadi senjata utama pesaing
Meski Samsung unggul di sisi software, beberapa nama lain tetap sulit diabaikan karena menawarkan daya tahan baterai yang besar. Motorola G06 Power, misalnya, hadir dengan baterai 7.000 mAh yang diklaim mampu bertahan lebih dari dua hari.
Nubia V80 Max juga masuk daftar menarik lewat baterai 6.000 mAh. Dengan kapasitas seperti itu, ponsel ini cocok untuk pengguna yang lebih mementingkan ketahanan daya, lalu menambah daya tarik lewat layar 6,9 inci berrefresh rate 120 Hz.
Layar makin menarik di kelas murah
Persaingan HP 1 jutaan tidak hanya berlangsung pada baterai, tetapi juga pada kualitas tampilan. Tecno Spark 30 Pro menjadi salah satu yang paling menonjol karena membawa layar AMOLED 120 Hz serta kamera utama 108 MP.
Itel S25 pun ikut menarik perhatian lewat panel Super AMOLED Full HD Plus. Bagi pengguna yang sering menonton video atau membaca konten di layar, jenis panel seperti ini bisa memberi tampilan yang lebih tajam dan kontras dibanding layar standar.
Fitur praktis dan performa harian ikut menentukan pilihan
Beberapa merek lain mencoba bersaing lewat kombinasi fitur yang lebih seimbang. Advan X1 misalnya, hadir dengan Helio G100, layar 120 Hz Full HD Plus, dan memori UFS 2.2 yang lebih cepat dibanding eMMC standar.
Poco C85 juga masuk radar berkat baterai 6.000 mAh dan pengisian cepat 33 watt. Sementara itu, Infinix Smart 20 menawarkan desain yang estetik sekaligus layar 120 Hz untuk mendukung navigasi harian yang lebih halus.
Opsi yang cocok untuk kebutuhan tertentu
Tidak semua pembeli mencari prioritas yang sama saat memilih ponsel murah. Sebagian pengguna justru membutuhkan fitur spesifik seperti NFC, dan Itel City 200 NFC muncul sebagai opsi termurah untuk kebutuhan cek saldo kartu elektronik secara praktis.
Ada pula Inoi A75 Elegance yang ikut dilirik karena harganya turun dari Rp2,2 jutaan menjadi Rp1,5 jutaan. Perubahan harga itu membuatnya masuk dalam daftar pertimbangan bagi pembeli yang ingin mencari nilai lebih di kelas terjangkau.
Dengan banyaknya pilihan di April 2026, penentuan prioritas menjadi langkah paling penting sebelum membeli. Jika fokus utama ada pada update software jangka panjang, Samsung Galaxy A07 tampak paling kuat, sementara Motorola G06 Power lebih cocok untuk pengguna yang mengutamakan baterai besar dalam kelas HP 1 jutaan.







