Edoardo Motta menjadi pembeda terbesar saat Lazio menyingkirkan Atalanta lewat adu penalti dramatis di Bergamo. Kiper Lazio itu tampil luar biasa dengan menggagalkan empat eksekusi lawan, dan hasil akhir 2-1 di babak tos-tosan memastikan langkah Lazio ke final Coppa Italia.
Drama itu lahir setelah duel semifinal bertahan 1-1 hingga melewati babak tambahan waktu. Lazio kemudian keluar sebagai pemenang berkat ketenangan para penendangnya dan ketahanan Motta di bawah mistar, terutama saat tekanan Atalanta mencapai puncaknya.
Pertandingan ketat sejak menit awal
Laga berlangsung dalam tempo tinggi dan sarat benturan fisik sejak awal. Lazio dan Atalanta sama-sama tampil agresif, sehingga ruang untuk merangkai serangan bersih hampir tidak tersedia.
Kedua tim terus saling menekan dan menjaga intensitas permainan. Situasi itu membuat pertandingan lebih banyak ditentukan oleh detail kecil, bukan penguasaan bola yang panjang.
Saat babak kedua mendekati akhir, tensi pertandingan justru semakin naik. Alessio Romagnoli dan Mario Pasalic akhirnya masing-masing mencetak gol, yang membuat kedudukan tetap seimbang dan memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.
VAR ikut mengubah jalannya laga
Atalanta sempat berada di atas angin ketika Ederson mencetak gol pada menit ke-60. Namun, setelah tinjauan VAR, gol itu dianulir karena ada pelanggaran terhadap penjaga gawang Lazio.
Keputusan video kembali berpengaruh di babak tambahan pertama. Giacomo Raspadori sempat membuat Atalanta bersuka cita setelah menanduk bola masuk ke gawang, tetapi wasit membatalkan gol tersebut karena Raspadori lebih dulu berada dalam posisi offside.
Dua momen itu membuat Atalanta gagal memanfaatkan momentum. Lazio tetap bisa menjaga struktur permainan mereka dan menunggu kesempatan untuk menyelesaikan pertandingan lewat adu penalti.
Motta jadi tembok terakhir Lazio
Nama Edoardo Motta menjadi sorotan utama setelah duel panjang itu berakhir. Penjaga gawang yang baru bergabung pada Januari tersebut menunjukkan ketenangan besar saat situasi semakin menekan.
Motta membaca arah bola dengan baik dalam rangkaian penalti dan menutup malam dengan empat penyelamatan penting. Gianluca Scamacca, Davide Zappacosta, Mario Pasalic, dan Charles De Ketelaere semuanya gagal menaklukkan dirinya dari titik putih.
Keberhasilan itu memberi dasar kuat bagi Lazio untuk mengakhiri adu penalti dengan skor 2-1. Di sisi lain, para penendang Lazio juga tetap tenang ketika momen menentukan datang.
Lazio melangkah ke final
Gustav Isaksen dan Kenneth Taylor menjadi dua penendang yang membantu Lazio mengamankan hasil akhir. Ketika adu penalti selesai, keunggulan mental dan efisiensi Lazio terasa menjadi pembeda di laga yang berjalan sangat ketat.
Hasil ini membawa Lazio ke final Coppa Italia untuk menghadapi Inter Milan. Inter lebih dulu memastikan tempat di partai puncak setelah menyingkirkan Como dengan kemenangan 3-2, sehingga final mempertemukan dua tim yang sama-sama lolos lewat jalur penuh tekanan.
Bagi Lazio, kemenangan di Bergamo memberi dorongan besar jelang laga perebutan gelar. Performa Motta, disiplin lini belakang, dan ketenangan dalam adu penalti menjadi bekal penting ketika mereka bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar di final.







