Anggaran TI Tak Lagi Cukup untuk Operasional, AI Bisa Didanai dari Penghematan Internal

Author: Redaksi Android62

Perusahaan kini didorong mengalihkan sebagian biaya operasional teknologi informasi ke investasi AI, karena belanja TI yang selama ini terserap untuk menjaga sistem lama berjalan membuat ruang inovasi semakin sempit. CEO Rimini Street Seth Ravin menilai persoalannya bukan semata kekurangan anggaran, melainkan pembagian dana yang masih terlalu berat ke sisi operasional.

Ia menyebut banyak organisasi masih menghabiskan sekitar 90% belanja TI untuk operasional dan hanya menyisakan kurang dari 10% untuk inovasi. Dalam situasi ekonomi global yang menekan, pola seperti ini dinilai semakin sulit dipertahankan jika perusahaan ingin bergerak lebih cepat dalam transformasi digital.

ERP Lama Masih Bisa Diperpanjang Nilainya

Salah satu dorongan utama dari pandangan tersebut adalah keyakinan bahwa perusahaan tidak harus mengganti seluruh sistem Enterprise Resource Planning atau ERP untuk mengejar transformasi. Platform ERP yang sudah dipakai bertahun-tahun masih bisa memberi nilai bila dikelola secara optimal.

Alih-alih menempuh penggantian sistem menyeluruh, perusahaan dapat memperpanjang umur investasi ERP dan menambahkan otomatisasi, analitik data, serta AI di atas fondasi yang sudah ada. Pendekatan ini disebut lebih hemat dan sekaligus menurunkan risiko gangguan operasional.

Fokus Langkah Manfaat yang Diharapkan Dampak Utama
Optimalisasi ERP Menjaga investasi yang sudah ada tetap bernilai Biaya transformasi lebih rendah
Tambah otomatisasi, analitik data, dan AI Memperluas kemampuan tanpa ganti sistem inti Risiko gangguan operasional lebih kecil
Transformasi bertahap Efisiensi dipakai kembali untuk inovasi berikutnya AI bisa didanai dari penghematan internal

AI Butuh Fondasi yang Sudah Efisien

Menurut Seth, AI akan memberi manfaat maksimal jika diterapkan pada proses bisnis yang sudah terdigitalisasi dan berjalan efisien. Dalam model itu, ERP tetap menjadi pusat data dan proses bisnis, sementara AI berperan sebagai lapisan inovasi untuk mempercepat analitik, otomatisasi, dan pengambilan keputusan.

Ia menyarankan transformasi dimulai secara bertahap, dari optimalisasi proses bisnis, lalu otomatisasi, kemudian integrasi AI pada area yang memberi dampak bisnis paling besar. Efisiensi yang muncul pada tiap tahap dapat digunakan kembali untuk membiayai langkah berikutnya.

Asia Tenggara dan Indonesia Mulai Mengubah Pola Belanja TI

Rimini Street melihat tren di Asia Tenggara mulai bergeser dari proyek transformasi besar menuju optimalisasi aset teknologi yang sudah dimiliki. Penghematan dari langkah itu kemudian dialokasikan untuk investasi AI, keamanan siber, dan inovasi digital lain.

Gejala serupa juga mulai terlihat di Indonesia. Di tengah dorongan transformasi digital, perusahaan disebut semakin berhati-hati agar setiap investasi TI benar-benar menghasilkan nilai bisnis yang terukur melalui efisiensi operasional dan penggunaan anggaran yang lebih produktif.

Perubahan cara belanja TI ini menandai bahwa percepatan adopsi AI tidak selalu bergantung pada dana baru. Bagi banyak perusahaan, kuncinya justru terletak pada kemampuan memangkas beban operasional dan mengalihkan ruang anggaran yang tersisa ke inovasi yang paling berdampak.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terbaru