Pertanyaan terbesar untuk XRP saat ini bukan soal seberapa agresif Ripple memperluas bisnisnya, melainkan mengapa perluasan itu belum otomatis mengangkat tokennya. Di pasar institusional, Ripple justru sedang mengumpulkan rangkaian kerja sama besar, sementara XRP masih tertahan di sekitar $1.40 setelah turun 41% dari puncak Januari di $2.42.
Jurang antara kinerja perusahaan dan pergerakan aset digitalnya terlihat semakin lebar. Ripple menambah mitra, masuk ke lebih banyak jalur pembayaran, dan memperluas penggunaan infrastrukturnya di berbagai negara, tetapi pasar belum memberi respons yang sama pada XRP.
Kebanyakan kesepakatan belum memberi dorongan langsung ke XRP
Dari 10 kesepakatan besar yang berhasil dikunci Ripple, tidak semuanya menambah permintaan langsung terhadap XRP. Tiga di antaranya bahkan tidak menyentuh XRPL sama sekali, yaitu Deutsche Bank, Mastercard, dan Bullish.
Deutsche Bank hanya mengintegrasikan perangkat lunak Ripple untuk pembayaran lintas batas dan alur kerja valuta asing. Mastercard juga sebatas membawa Ripple ke jaringan Crypto Partner Program, sementara akuisisi Bullish atas Equiniti tidak terhubung ke chain.
Situasi ini membuat ekspansi bisnis Ripple terlihat kuat di atas kertas, tetapi tidak otomatis berubah menjadi tekanan beli pada XRP. Pasar lebih cepat membaca hasil korporasi ketimbang manfaat langsung untuk token utamanya.
XRPL memang dipakai, tetapi perannya masih terbatas
Tujuh kesepakatan lain memang berjalan di XRPL, namun XRP pada banyak kasus hanya berfungsi sebagai biaya transaksi. Artinya, penggunaan jaringan bertambah, tetapi hubungan ke permintaan token belum cukup besar untuk mendorong harga.
Aviva Investors memakai XRPL untuk rencana tokenisasi dana tradisional. Société Générale lewat SG-FORGE memilih XRPL sebagai blockchain ketiga untuk stablecoin euro EURCV yang patuh MiCA, setelah Ethereum dan Solana.
Di Brasil, Ripple menutup kuartal pertama dengan ekspansi negara tunggal terbesar sejauh ini. Langkah itu mencakup lima produk terintegrasi, enam mitra institusional termasuk Banco Genial dan Braza Bank, serta pengajuan lisensi VASP ke bank sentral Brasil.
Ripple juga masuk ke alur yang lebih teknis
Pada kuartal kedua, fokus bergerak dari penguatan kredibilitas Eropa ke penggunaan institusional yang lebih teknis. Sejauh ini, periode itu mencatat kerja sama dari Korea, spin-off Western Union, dan pilot besar yang melibatkan JPMorgan, Mastercard, dan Ondo.
Convera menjadi pembuka pada 31 Maret. Perusahaan pembayaran komersial global itu memproses sekitar $190 miliar per tahun di lebih dari 200 negara dan melayani 30.000 klien bisnis.
Dalam skema yang disebut Ripple sebagai “stablecoin sandwich”, fiat masuk, diselesaikan lewat RLUSD di XRPL, lalu keluar lagi sebagai fiat di sisi lain tanpa Convera menyentuh kripto secara langsung. Model ini memperlihatkan bagaimana Ripple mencoba memudahkan penyelesaian lintas batas tanpa memaksa mitra memegang aset digital secara langsung.
Asia ikut memperluas jejak Ripple
Pada 15 April, Kyobo Life Insurance menandai pencapaian penting di Korea. Perusahaan asuransi jiwa terbesar di negara itu menyelesaikan obligasi pemerintah Korea yang ditokenisasi pertama di blockchain melalui Ripple Custody, dengan waktu penyelesaian turun dari dua hari menjadi hampir real time.
Dua minggu setelahnya, Kbank ikut bergabung. Bank internet-only pertama di Korea sekaligus mitra perbankan eksklusif Upbit itu memakai infrastruktur wallet Ripple Custody untuk remitansi berbasis stablecoin.
Sementara itu, pada 5 Mei, Bullish membeli Equiniti dalam transaksi yang oleh Brad Garlinghouse disebut sebagai “the biggest crypto deal ever”. Sehari kemudian, pilot yang melibatkan Ondo Finance, Kinexys milik JPMorgan, Mastercard, dan Ripple berjalan nyaris real time untuk redemption tokenized U.S. Treasury lintas batas.
Dalam pilot itu, OUSG diselesaikan di XRPL dalam waktu di bawah lima detik. Mastercard Multi-Token Network mengarahkan instruksi, sedangkan JPMorgan mengirim USD ke rekening bank Ripple di Singapura.
Apa yang masih menahan XRP
Masalah utamanya bukan kekurangan aktivitas, melainkan arah manfaatnya. Selama mitra memakai perangkat lunak Ripple, Ripple Custody, RLUSD, atau XRPL tanpa menjadikan XRP sebagai aset settlement utama, dampak harga token itu cenderung terbatas.
Satu faktor yang berpotensi mengubah keadaan adalah CLARITY Act. RUU itu dijadwalkan masuk markup di Senate Banking Committee pada 14 Mei dan akan mengunci status komoditas XRP dalam hukum federal.
Jika itu terjadi, institusi akan punya landasan hukum yang lebih jelas untuk menggunakan XRP sebagai aset settlement dalam skala besar. Sampai saat itu tiba, Ripple masih bisa terus menambah mitra, tetapi pasar XRP belum menunjukkan reaksi yang sebanding dengan laju ekspansi perusahaan.
