Ekspedisi Rupiah Berdaulat kembali diperluas oleh Bank Indonesia bersama TNI Angkatan Laut hingga menyasar 97 pulau di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil atau 3T. Langkah ini menempatkan distribusi rupiah bukan sekadar layanan kas, melainkan bagian dari kehadiran negara di wilayah yang sulit dijangkau.
Program tersebut dirancang agar masyarakat di pulau-pulau terluar tetap bisa memperoleh uang rupiah layak edar dan layanan keuangan yang memadai. Dalam konteks negara kepulauan seperti Indonesia, keberadaan rupiah di wilayah 3T menjadi penting agar mata uang nasional tetap digunakan, dihormati, dan hadir di seluruh wilayah NKRI.
Rupiah sebagai simbol kedaulatan
Deputi Gubernur BI Ricky P Gozah menegaskan bahwa BI memiliki mandat konstitusional untuk mengeluarkan dan mengedarkan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Ia juga menyampaikan bahwa rupiah bukan hanya alat transaksi, tetapi simbol kedaulatan negara yang perlu dijaga bersama.
Ricky menyoroti tantangan distribusi uang di Indonesia yang tidak ringan. Luasnya wilayah kepulauan, keterbatasan infrastruktur, serta kedekatan sejumlah daerah perbatasan dengan 11 negara membuat kebutuhan layanan rupiah di kawasan 3T semakin mendesak.
Sinergi BI dan TNI AL di lapangan
Dalam pelaksanaan ekspedisi, TNI AL berperan sebagai garda terdepan untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan laut Indonesia. Sementara itu, BI menjalankan fungsi menjaga kedaulatan rupiah melalui layanan kas dan edukasi kepada masyarakat di wilayah sasaran.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa distribusi rupiah tidak bisa dilepaskan dari dukungan keamanan, akses laut, dan kehadiran langsung di lapangan. Ricky menegaskan bahwa tujuan kedua lembaga itu sejalan, yakni menjaga kedaulatan bangsa dan memastikan rupiah tetap menjadi kebanggaan bersama.
Capaian yang terus bertambah
Sejak 2012 hingga 2025, Ekspedisi Rupiah Berdaulat telah menjangkau 565 pulau melalui lebih dari 110 kegiatan kas keliling. Pada 2025, program ini mencatat 18 kegiatan yang menyentuh 91 pulau dengan total penukaran uang mencapai Rp 154,4 miliar.
Rangkaian data itu memperlihatkan bahwa kebutuhan layanan rupiah di wilayah kepulauan masih terus berlangsung. Distribusi uang layak edar ke daerah terpencil juga hanya dapat berjalan melalui kerja sama lintas lembaga yang konsisten.
Layanan yang dibawa lebih luas
Ekspedisi Rupiah Berdaulat tidak hanya membawa layanan penukaran uang rupiah ke pulau-pulau 3T. Program ini juga memuat edukasi Cinta Bangga Paham Rupiah, layanan kesehatan, bantuan sosial, serta program bela negara dari TNI AL.
Pendekatan tersebut membuat manfaat ekspedisi terasa lebih luas bagi warga. Di sisi lain, program ini juga membantu memperkuat literasi rupiah sekaligus menghadirkan manfaat sosial secara langsung di daerah sasaran.
Arah perluasan berikutnya
Pada 2026, cakupan ERB diperluas menjadi 19 provinsi dengan target 97 pulau 3T. Empat provinsi lain juga akan menjalankan program serupa secara mandiri untuk menjangkau 18 pulau tambahan.
Perluasan ini menunjukkan bahwa BI dan TNI AL masih menempatkan layanan rupiah di wilayah terpencil sebagai agenda penting. Langkah tersebut juga menyesuaikan karakter geografis Indonesia yang tersebar dan sulit diakses.
Pelaksanaan awal ERB 2026 dimulai dari Jawa Timur pada 23-29 April 2026. Dalam tahap ini, ekspedisi menyasar lima pulau, yakni Bawean, Sapeken, Masalembu, Kangean, dan Sakala, dengan menggunakan KRI Makassar-590.
Pengakuan atas inisiatif distribusi rupiah
Program ERB juga memperoleh pengakuan internasional melalui Annual Central Banking Awards 2024 di Inggris. Penghargaan itu menjadi salah satu penanda bahwa inisiatif distribusi rupiah ke wilayah 3T dinilai penting dalam pengelolaan uang nasional.
BI menyatakan akan terus memperluas jangkauan pelayanan kas dan memperkuat literasi masyarakat tentang rupiah melalui sinergi yang inklusif dan berkelanjutan. Fokus itu diarahkan agar rupiah tetap hadir sebagai simbol negara di seluruh Indonesia, termasuk di pulau-pulau yang paling sulit dijangkau.
