Ekspor Indonesia Tertekan, Tarif AS dan Harga Komoditas Mulai Menggerus Semester II

Author: Redaksi Android62

Ekspor Indonesia pada semester II 2026 menghadapi tekanan berlapis dari luar negeri. Tarif impor Amerika Serikat, pelemahan harga komoditas global, dan permintaan yang belum pulih di sejumlah pasar utama menjadi tiga faktor yang paling membebani.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai dampak penuh kebijakan tarif AS belum langsung terlihat pada awal tahun. Penyesuaian pesanan dari importir disebut membutuhkan waktu sebelum benar-benar tercermin pada kinerja ekspor Indonesia.

Risiko kehilangan pesanan ke negara pesaing

Selain beban tarif, Indonesia juga menghadapi risiko pergeseran pesanan ke Vietnam dan Meksiko. Kedua negara itu dinilai memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar Amerika Serikat.

Jika pola tersebut berlanjut, sebagian permintaan yang selama ini mengalir ke Indonesia dapat berpindah. Negosiasi tarif dengan Washington pun menjadi salah satu penentu arah ekspor pada sisa tahun ini.

Komoditas utama belum memberi penopang kuat

Tekanan tidak berhenti di pasar Amerika Serikat. Harga batu bara dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih berada dalam tren pelemahan.

Di sisi lain, permintaan logam industri dari China belum pulih sepenuhnya. Yusuf menilai stimulus ekonomi Negeri Tirai Bambu itu berjalan lebih lambat dari ekspektasi pasar, sehingga dorongan terhadap ekspor Indonesia belum kuat.

Masih ada penopang dari China dan hilirisasi

Di tengah tekanan tersebut, ekspor nonmigas ke China masih mencatat pertumbuhan positif. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke China naik 17,7% secara tahunan.

Permintaan terhadap produk hilirisasi nikel juga disebut masih mampu menjaga kinerja ekspor. Faktor ini menjadi salah satu penahan agar pelemahan tidak terjadi lebih dalam.

Indikator Periode Perubahan Keterangan
Ekspor nonmigas ke China Januari-Mei 2026 Naik 17,7% Tumbuh secara tahunan
Nilai ekspor nonmigas Indonesia Mei 2026 US$ 22,45 miliar Turun 4,5% dibandingkan tahun lalu
Ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Mei 2026 US$ 500 juta Merosot 20,43%
Ekspor sektor pertambangan dan lainnya Mei 2026 US$ 2,89 miliar Turun 7,03%

Data terbaru menunjukkan tekanan mulai terasa

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$ 22,45 miliar. Angka itu turun 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor logam mulia dan perhiasan, bijih logam, terak dan abu, serta besi dan baja. Kondisi ini menunjukkan tekanan eksternal sudah mulai tercermin pada beberapa kelompok barang ekspor utama.

Dari sisi sektor, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas dengan nilai US$ 19,05 miliar. Namun sektor tersebut juga turun 3,59% secara tahunan.

Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merosot 20,43% menjadi US$ 500 juta. Sektor pertambangan serta lainnya juga menyusut 7,03% menjadi US$ 2,89 miliar.

Tarif AS masih berlaku sementara

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat masih dikenai tarif universal 10%. Tarif itu berlaku selama 150 hari hingga 24 Juli 2026.

Tarif sementara tersebut diberlakukan setelah skema tarif resiprokal sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS. Pemerintah Indonesia kini terus bernegosiasi agar mendapat tarif yang lebih kompetitif dan pembebasan tarif untuk sejumlah komoditas ekspor strategis.

Yusuf memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua akan berada di kisaran nol sampai dua persen. Ia juga menilai risiko masih cenderung mengarah ke bawah bila negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru