Tekanan dari investor asing masih terasa di pasar reguler, meski intensitas jual bersih mulai mereda. Sepanjang pekan, asing mencatat net sell Rp2,73 triliun, lebih kecil dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp3,43 triliun.
Kondisi itu belum cukup untuk mengangkat IHSG ke zona aman secara akumulatif. Pada Jumat (3/7/2026), indeks sempat menguat 2,28% ke level 5.875, tetapi tetap menutup pekan dengan pelemahan 0,35%.
PGAS dan AMRT paling membebani indeks
Di antara saham berkapitalisasi besar, PGAS menjadi penekan terbesar IHSG dalam sepekan. Saham ini memberi kontribusi negatif 3,02 poin terhadap bobot indeks, sekaligus membebani LQ45 sebesar 0,56 poin.
AMRT juga memberi tekanan yang tidak kalah besar. Emiten ritel tersebut mengurangi bobot IHSG sebesar 2,47 poin dan menekan LQ45 sebesar 0,46 poin.
| Saham | Dampak ke IHSG | Dampak ke LQ45 |
|---|---|---|
| PGAS | -3,02 poin | -0,56 poin |
| AMRT | -2,47 poin | -0,46 poin |
Tekanan dari dua saham tersebut membuat pemulihan harian IHSG belum cukup kuat untuk menutup performa pekanan yang masih negatif. Pasar masih sensitif terhadap saham-saham yang memberi beban besar pada indeks.
Saham penguat ada, tetapi belum seimbang
Di sisi lain, beberapa emiten masih berperan menjaga indeks agar tidak terkoreksi lebih dalam. AMMN tercatat menjadi penyumbang penguatan terbesar sepanjang pekan, lalu diikuti TLKM dan ANTM.
Kontribusi ketiganya membantu menahan pelemahan di tengah tekanan yang datang dari saham-saham berbobot besar. Namun, dorongan positif itu belum mampu menandingi beban dari emiten yang lebih dominan di indeks.
Sentimen makro dan geopolitik ikut memperburuk pergerakan
Volatilitas IHSG juga dipengaruhi faktor makroekonomi dan geopolitik. Indeks manufaktur PMI Indonesia tercatat kontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026, sementara tarik ulur perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran ikut menambah ketidakpastian pasar.
Kombinasi sentimen tersebut sempat menyeret IHSG ke penutupan terendah pekan ini di level 5.643 pada Selasa (30/6/2026). Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik datang dari dalam dan luar negeri sekaligus.
Meski sempat bangkit pada akhir pekan, arah pergerakan indeks masih ditentukan oleh kuatnya tekanan di saham-saham utama dan aliran dana asing yang belum sepenuhnya kembali. Dengan beban itu, ruang pemulihan IHSG sepanjang pekan masih tertahan.
