Keterbatasan pasokan BBM kembali membuka perbincangan soal ketahanan transportasi publik. Di tengah kondisi energi yang tidak stabil, bus listrik muncul sebagai opsi yang lebih terukur karena biaya operasionalnya tidak terlalu mengikuti naik-turun harga solar.
Peralihan ke armada listrik juga dipandang bukan semata urusan teknologi. Dalam forum diskusi yang digelar INSTRAN bersama Intelligent Transport System Indonesia dan PT Kalista Nusa Armada, elektrifikasi transportasi publik ditegaskan sebagai bagian dari strategi menjaga layanan tetap berjalan saat pasar energi bergejolak.
Biaya operasional menjadi titik paling sensitif
Salah satu alasan bus listrik mulai dilirik adalah besarnya porsi BBM dalam struktur biaya angkutan umum. Kasie Angkutan Orang Dalam Trayek dan Terminal Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Made Jony Sasrawan, menyebut sekitar 70 persen biaya operasional angkutan umum dipengaruhi harga BBM.
Kondisi itu membuat operator sangat rentan ketika harga energi bergerak cepat. Saat solar naik, beban operasional ikut terkerek dan ruang fiskal untuk menjaga layanan menjadi lebih sempit.
Dengan bus listrik, struktur biaya cenderung lebih mudah diperkirakan. Operator tidak lagi sepenuhnya bergantung pada harga BBM yang bisa berubah tajam, sehingga perencanaan anggaran menjadi lebih stabil untuk jangka lebih panjang.
Jakarta mulai bergerak, tapi tantangannya masih besar
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memulai elektrifikasi armada Transjakarta sejak 2022. Saat itu, target besar sempat dipasang untuk mempercepat perpindahan ke bus listrik sebagai bagian dari transformasi transportasi publik.
Namun, pekerjaan rumah utama masih berada pada infrastruktur pengisian daya. Fasilitas charging bus saat ini masih banyak terkonsentrasi di pool, sehingga belum mendukung operasi yang lebih luas dan fleksibel di lapangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengadaan bus listrik saja tidak cukup. Sistem pendukung seperti lokasi pengisian, kapasitas jaringan listrik, dan kesiapan operasional juga perlu berkembang bersamaan agar armada dapat dimanfaatkan secara optimal.
Potensi penghematan yang dilihat dari sisi fiskal
Dari sisi anggaran, bus listrik dinilai memberi peluang efisiensi yang cukup besar. Spesialis Utama Transformasi Manajemen Transjakarta, Gatot Indra Koswara, menyampaikan bahwa subsidi untuk satu unit bus diesel dapat mencapai Rp302 juta per tahun hanya untuk konsumsi solar.
Ia juga menjelaskan bahwa jika penghematan biaya perawatan dan energi dihitung selama 5,5 tahun, nilainya bisa mencapai sekitar Rp3,9 miliar. Nilai itu setara harga satu bus listrik 12 meter, sehingga elektrifikasi terlihat relevan bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk efisiensi fiskal daerah.
Berikut beberapa alasan bus listrik dianggap penting saat krisis BBM:
- Mengurangi ketergantungan pada solar yang pasokannya rentan terganggu.
- Menahan lonjakan biaya operasional armada saat harga energi berfluktuasi.
- Membantu menekan beban subsidi transportasi publik.
- Memberi kepastian biaya energi dalam perencanaan jangka panjang.
- Mendukung kualitas udara perkotaan yang lebih bersih karena emisi knalpot berkurang.
Kebijakan, insentif, dan infrastruktur harus bergerak bersama
Ketua Departemen Angkutan Pariwisata DPP Organda, Anthony Steven Hambali, menilai Indonesia membutuhkan cetak biru elektrifikasi transportasi publik yang bersifat jangka panjang. Arah kebijakan, menurut dia, tidak seharusnya bergantung pada situasi sesaat atau pergantian siklus pemerintahan.
Direktur Utama KALISTA Group, Albert Aulia Ilyas, menambahkan bahwa percepatan elektrifikasi memerlukan skema push and pull. Artinya, dorongan regulatif harus berjalan bersama insentif ekonomi agar transisi tidak berhenti di level wacana.
Tanpa dukungan kebijakan dan insentif yang seimbang, elektrifikasi akan sulit merata, terutama pada sektor angkutan orang seperti bus dan shuttle. Di saat yang sama, kesiapan charging, standar teknis, serta skema perawatan armada tetap menjadi penentu agar bus listrik benar-benar mampu menekan biaya operasional secara signifikan.
Source: www.medcom.id






