Emas Bertahan di Atas US$ 4.000, Isyarat Inflasi dan Geopolitik Masih Menekan Pasar

Harga emas dunia masih bertahan di atas level US$ 4.000 per ounce, tetapi pasar belum benar-benar menemukan arah yang lebih tenang. Di tengah kekhawatiran inflasi yang belum sepenuhnya reda dan ketegangan geopolitik yang terus memanas, logam mulia ini bergerak hati-hati.

Tekanan terbesar datang dari kombinasi suku bunga tinggi yang masih membayangi serta situasi di Timur Tengah yang kembali menambah ketidakpastian. Kondisi itu membuat emas tetap berada di area sensitif, meski sebagian analis melihat peluang pemulihan bila level teknikal penting mampu dipertahankan.

Level penting yang kini menjadi perhatian pasar

Senior Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menilai emas berada di titik krusial secara teknikal. Menurut dia, jika level US$ 4.000 gagal bertahan, ruang penurunan menuju US$ 3.950 bahkan US$ 3.000 bisa terbuka.

Namun, bila support itu mampu bertahan, emas berpeluang naik kembali ke US$ 4.100. Dalam pandangannya, kenaikan harga bahan bakar juga dapat menjaga inflasi tetap tinggi lebih lama sehingga bank-bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih panjang.

IndikatorPergerakanKeterangan
PPI AS Juni-0,3%Setelah Mei direvisi naik 0,6%
Peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli10,2%Turun dari 16,6% sebelum data PPI diumumkan
Emas spotUS$ 4.047,27 per ounceTurun 0,2%
Emas berjangka ASUS$ 4.053,70 per ounceTurun 0,4%

Data inflasi memberi napas, tetapi belum cukup meredakan kekhawatiran

Harga emas spot tercatat turun 0,2% ke US$ 4.047,27 per ounce setelah sebelumnya sempat merosot hampir 1%. Kontrak emas berjangka AS juga melemah 0,4% menjadi US$ 4.053,70 per ounce.

Chief Market Strategist Blue Line Futures, Phillip Streible, menilai emas sempat memangkas pelemahannya setelah data inflasi produsen Amerika Serikat atau PPI dirilis lebih rendah dari perkiraan. Ia mengatakan kondisi itu sedikit meredakan kekhawatiran bahwa The Fed akan beberapa kali menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics mencatat indeks harga produsen turun 0,3% pada Juni setelah pada Mei direvisi naik 0,6%. Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI tidak berubah pada Juni.

Data inflasi konsumen AS sehari sebelumnya juga menunjukkan laju kenaikan harga melambat lebih besar dari perkiraan analis. Menurut CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10,2% dari sebelumnya 16,6% sebelum data PPI diumumkan.

Geopolitik Timur Tengah ikut menjaga pasar tetap waspada

Di sisi lain, sentimen dari Timur Tengah masih menjadi faktor penentu yang membuat pasar sulit tenang. Amerika Serikat dilaporkan memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut di sejumlah pelabuhan Iran.

Iran kemudian mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut. Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu dan membuat pasar komoditas tetap berada dalam mode waspada.

Lukman Otunuga menilai perkembangan di sekitar Selat Hormuz kembali memunculkan kekhawatiran soal tekanan inflasi global. Ia juga menyebut bahwa bila harga minyak naik lebih tinggi, tekanan itu justru bisa menekan pergerakan harga emas.

Dalam perdagangan yang sama, logam mulia lain bergerak beragam. Harga perak spot turun 1,6% menjadi US$ 57,67 per ounce, platinum naik 0,2% ke US$ 1.634,13 per ounce, sedangkan palladium melemah 0,8% menjadi US$ 1.294,25 per ounce.

Source: www.liputan6.com
Berita Terkait