Gedung dan rumah di dunia masih belum cukup cepat beralih ke arah rendah emisi, padahal sektor bangunan menanggung porsi besar dari persoalan iklim global. Di saat yang sama, pembangunan terus berjalan cepat dengan tambahan sekitar 12,7 juta meter persegi bangunan baru setiap hari.
Tekanan ini membuat sektor bangunan berada dalam posisi yang rumit. Jika standar rendah karbon tertinggal, gedung-gedung yang baru berdiri berisiko mengunci emisi tinggi selama puluhan tahun dan ikut menambah beban biaya hidup di perkotaan.
Emisi besar, dampaknya meluas
Laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 mencatat sektor bangunan dan konstruksi menyumbang 37 persen emisi global. Sektor ini juga memakai 28 persen energi dunia dan menyerap hampir setengah dari total ekstraksi material global.
Angka tersebut menunjukkan bahwa bangunan bukan lagi urusan teknis semata. UNEP menilai perhatian utama kini bergeser ke cara membuat bangunan baru dan bangunan yang sudah ada menjadi lebih hemat energi, lebih rendah karbon, dan lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim.
Biaya hidup ikut terdorong
Bangunan yang boros energi tidak hanya memperbesar emisi. Kondisi itu juga membuat penghuni lebih rentan terhadap lonjakan harga energi, terutama di wilayah perkotaan yang biaya hidupnya sudah tinggi.
Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP, menegaskan bahwa bangunan bisa menentukan arah krisis iklim. Ia menyebut bangunan dapat mengunci risiko iklim atau justru menghadirkan lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan terjangkau.
Efisiensi bangunan karena itu berkaitan langsung dengan keterjangkauan hunian. Saat tagihan energi naik, bangunan yang hemat listrik dapat membantu menahan beban pengeluaran rumah tangga, bukan menambah tekanan baru.
Masih banyak ruang untuk berbenah
Walaupun pembangunan terus melaju, sekitar separuh bangunan dunia pada 2050 masih belum dibangun atau direnovasi. Kondisi itu memberi ruang besar bagi pemerintah untuk mempercepat perubahan lewat kebijakan, standar bangunan, dan investasi hijau.
Keputusan yang diambil sekarang akan berpengaruh panjang. Jika standar baru diterapkan lebih cepat, emisi dapat ditekan tanpa menghambat kebutuhan hunian maupun pertumbuhan kota.
Kemajuan ada, tetapi lajunya belum cukup
UNEP mencatat ada kemajuan dalam beberapa aspek. Sejak 2015, sertifikasi bangunan hijau meningkat dan intensitas energi bangunan turun 8,5 persen.
Namun, laju tersebut masih tertinggal dari kebutuhan dekarbonisasi global. UNEP menilai percepatan yang terjadi belum cukup untuk membawa sektor ini ke jalur net zero.
Investasi dan energi terbarukan masih tertinggal
Pada 2024, penggunaan energi terbarukan di sektor bangunan baru memenuhi sekitar 17,3 persen kebutuhan energi global bangunan. Porsinya masih jauh dari jalur yang dibutuhkan untuk mencapai emisi nol bersih.
Dari sisi pembiayaan, pengeluaran global untuk efisiensi energi bangunan mencapai 275 miliar dolar AS sepanjang 2024. Meski besar, angka itu belum sebanding dengan kebutuhan.
UNEP menyebut investasi tahunan perlu naik lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 592 miliar dolar AS per tahun hingga 2030 agar target nol emisi bersih pada 2050 tetap mungkin dicapai. Kesenjangan investasi ini menjadi salah satu alasan mengapa dekarbonisasi bergerak lambat.
Arah kebijakan mulai berubah
Sejumlah negara sudah mulai bergerak lebih progresif. Uni Eropa memperkuat kebijakan pengurangan emisi bangunan, sementara India, Pakistan, dan Australia meningkatkan penggunaan energi terbarukan di gedung-gedung.
Negara berkembang lain, termasuk Indonesia, juga mulai menyusun peta jalan transformasi sektor bangunan yang lebih berkelanjutan. UNEP melihat pembaruan standar efisiensi energi, penggunaan material rendah karbon, dan pengembangan kawasan hemat energi sebagai bagian penting dari transisi tersebut.
Pada akhirnya, masa depan sektor bangunan akan sangat menentukan. Dengan emisi yang masih tinggi dan pembangunan yang terus berlanjut, pilihan kebijakan hari ini akan ikut menentukan apakah pertumbuhan kota justru memperbesar risiko iklim atau membuka jalan bagi hunian yang lebih layak, lebih terjangkau, dan lebih tahan menghadapi tekanan masa depan.
Source: www.suara.com






