Penularan hantavirus paling sering terjadi tanpa disadari, karena sumbernya dekat dengan aktivitas harian yang bersentuhan dengan lingkungan tikus. Risiko itu muncul saat debu, permukaan, atau benda yang tercemar urin, feses, atau air liur tikus ikut terpapar ke manusia.
Di Indonesia, hantavirus sudah lama ditemukan dan masih terkait erat dengan rodensia, terutama tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Lingkungan dengan sanitasi buruk, permukiman padat, serta pengelolaan sampah yang tidak baik ikut membuat populasi tikus mudah berkembang di sekitar manusia.
Empat jalur paparan yang paling sering luput
Salah satu jalur yang sering tidak disadari adalah menghirup debu yang sudah terkontaminasi kotoran tikus. Risiko ini dapat muncul di gudang, loteng, rumah kosong, atau area lain yang jarang dibersihkan.
Jalur berikutnya terjadi saat seseorang menyentuh tikus hidup atau mati tanpa pelindung. Setelah itu, virus dapat masuk jika tangan yang terkontaminasi menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Paparan juga dapat berasal dari permukaan, barang, atau area yang sudah tercemar urin, feses, atau air liur tikus. Karena bentuknya tidak selalu terlihat jelas, sumber penularan ini kerap terlewat saat orang membersihkan tempat yang tampak biasa saja.
Faktor lingkungan memperbesar risiko tersebut, terutama bila sanitasi buruk dan tikus mudah berkeliaran di sekitar rumah. Kondisi ini membuat hantavirus bisa menyebar tanpa disadari oleh orang yang sering berada dekat dengan area terpapar.
Gejala awal yang mudah disangka penyakit lain
Masalah lain pada hantavirus adalah gejalanya yang tidak khas di awal. Demam, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, sakit kepala, dan nyeri perut sering muncul terlebih dahulu.
Keluhan itu membuat hantavirus kerap disangka tifus, dengue, atau leptospirosis. Akibatnya, infeksi bisa terlambat dikenali meski virusnya masih beredar di lingkungan yang mendukung kehidupan tikus.
Pada sebagian kasus, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan atau masalah pada ginjal. Karena itu, keluhan awal yang tampak ringan tetap perlu dicermati bila ada riwayat kontak dengan lingkungan yang berisiko.
Dua bentuk penyakit yang dikenal
Hantavirus memiliki dua bentuk utama dengan dampak yang berbeda. Bentuk pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS, yang lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia.
HFRS menyerang ginjal dan pembuluh darah, sehingga dapat memicu perdarahan hingga gagal ginjal. Kementerian Kesehatan mencatat ada 23 kasus HFRS di Indonesia sejak 2024 hingga 2026.
Bentuk kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Penyakit ini lebih sering ditemukan di Amerika dan menyerang paru-paru hingga dapat menyebabkan sesak napas akut dan gagal napas.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa kasus hantavirus di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Kasus HPS juga belum ditemukan di Indonesia, sehingga perhatian utama tetap tertuju pada HFRS dan paparan yang terkait tikus.
Pencegahan masih menjadi langkah paling penting
Belum ada vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus, sehingga pencegahan menjadi kunci utama. Kebersihan rumah, penutupan akses masuk tikus, dan pengurangan tumpukan sampah perlu dijaga agar risiko tidak meningkat.
Saat membersihkan area berdebu atau tempat yang diduga pernah terpapar tikus, masker dapat membantu menurunkan risiko paparan. Tangan juga perlu dicuci setelah menyentuh area kotor atau benda yang berpotensi terkontaminasi.
Pengendalian populasi tikus di lingkungan sekitar tetap penting untuk menekan peluang penularan. Semakin dekat interaksi manusia dengan tikus dan semakin buruk sanitasi, semakin besar pula risiko hantavirus menyebar tanpa terdeteksi.
Source: www.suara.com






