Mikroplastik Sudah Masuk Lewat Udara dan Makanan, Risiko Jangka Panjangnya Mengintai

Mikroplastik kini tidak lagi hanya menjadi persoalan sampah, tetapi juga paparan yang bisa masuk ke tubuh manusia melalui udara, makanan, minuman, dan kontak kulit. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini kerap tidak terlihat, namun jalur masuknya ada di sekitar aktivitas harian masyarakat.

Sejumlah temuan yang dibahas dalam pemberitaan ini menunjukkan bahwa paparan tersebut berlangsung diam-diam dan berlapis. Dalam satu kajian yang diterbitkan di Environmental Science & Technology pada 2024, masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan.

Jalur paparan yang paling dekat dengan keseharian

Kepala Divisi Program dan Aksi KOPHI Yogyakarta, Nurhayati, menjelaskan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh melalui tiga jalur utama, yaitu udara, pencernaan, dan kontak dermal. Jalur udara terjadi saat partikel sangat kecil dari aktivitas industri atau pembakaran sampah terhirup ke saluran pernapasan.

Jalur pencernaan terjadi ketika plastik yang tidak terkelola dengan baik terbawa ke sungai dan laut, lalu masuk ke tubuh biota laut seperti ikan. Dari sana, partikel itu dapat ikut berpindah ke rantai makanan manusia.

Air minum, pakaian, dan produk harian ikut menyumbang paparan

Nurhayati juga menyoroti bahwa serat pakaian berbahan polyester bisa melepaskan partikel plastik saat dicuci. Serat tersebut kemudian masuk ke saluran air dan ikut mencemari lingkungan.

Paparan lain dapat muncul dari air minum dalam kemasan, sehingga persoalan mikroplastik tidak hanya berhenti pada sampah yang terlihat di ruang publik. Dalam konteks yang lebih luas, partikel ini juga berpotensi memengaruhi lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Kontak dermal berkaitan dengan paparan melalui kulit serta penggunaan produk perawatan diri yang dikemas dengan bahan plastik. Karena itu, pemilihan bahan kemasan produk sehari-hari menjadi bagian yang patut diperhatikan lebih cermat.

Dampaknya cenderung menumpuk dalam jangka panjang

Nurhayati menegaskan bahwa paparan mikroplastik tidak selalu langsung memunculkan gangguan kesehatan yang terasa. Efeknya lebih mungkin muncul dalam waktu lama, sehingga akumulasi partikel di dalam tubuh perlu menjadi perhatian.

Meski ukurannya sangat kecil, partikel yang terus masuk tetap berpotensi menimbulkan masalah bila penumpukannya berlangsung berulang. Karena itu, risiko mikroplastik tidak semestinya dianggap ringan hanya karena tidak kasatmata.

Indonesia masih menghadapi tekanan polusi plastik

Ancaman ini menjadi sorotan karena polusi plastik di Indonesia masih tinggi. Ecoton melaporkan Indonesia sebagai penyumbang polusi plastik terbesar ketiga di dunia pada 2024, dengan sekitar 3,4 juta metrik ton sampah plastik per tahun.

Skala persoalan tersebut memperlihatkan bahwa mikroplastik tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan pengelolaan sampah plastik yang belum tuntas. Selama plastik terus dibuang dan tidak tertangani, peluang partikel kecil itu berpindah ke lingkungan dan tubuh manusia tetap terbuka.

Langkah sederhana untuk menekan paparan

Upaya pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan harian yang sederhana. Mengurangi plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, dan menerapkan prinsip think before buying menjadi langkah yang dinilai membantu menekan timbulan sampah plastik.

Kebiasaan tersebut juga mendukung lingkungan yang lebih sehat bagi manusia dan keanekaragaman hayati. Di tengah paparan mikroplastik yang semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari, pilihan konsumsi dan pengelolaan sampah menjadi semakin penting untuk diperhatikan.

Source: www.suara.com

Berita Terkait