Perbasi kini menanggung tugas besar di dua sisi sekaligus: menyiapkan tim nasional dan memastikan Indonesia siap menjadi tuan rumah empat turnamen basket level Asia dan dunia. Beban itu menempatkan Indonesia dalam sorotan yang jauh lebih besar, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari rapinya penyelenggaraan, tetapi juga dari hasil di lapangan.
Empat ajang yang sudah menunggu itu adalah FIBA U16 Asia Cup 2027 dan FIBA U17 Basketball World Cup 2028 untuk putri, lalu FIBA U18 Asia Cup 2028 dan FIBA U19 Basketball World Cup 2029 untuk putra. Bagi Perbasi, rangkaian turnamen tersebut menjadi ujian penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia siap berada di panggung basket internasional dalam waktu yang berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal Perbasi Nirmala Dewi mengatakan persiapan telah dimulai sejak tahun lalu. Federasi memilih bergerak di dua jalur sekaligus, yaitu membangun kesiapan tim nasional dan mematangkan diri sebagai penyelenggara.
Langkah itu membuat fokus Perbasi terbagi antara infrastruktur penyelenggaraan dan performa tim yang kelak berlaga. Nirmala menegaskan, Indonesia ingin tampil baik di mata internasional ketika menghadapi lawan-lawan yang kuat.
Kepercayaan diri Perbasi tidak muncul tanpa dasar. Indonesia sudah memiliki pengalaman menggelar turnamen basket internasional sebelumnya, yang menjadi bekal penting dalam menyusun persiapan berikutnya.
Jakarta pernah menjadi lokasi FIBA Asia Cup 2022. Kota itu juga ikut menjadi salah satu tuan rumah FIBA Basketball World Cup 2023 bersama Filipina dan Jepang.
Pengalaman tersebut membuat pematangan program penyelenggaraan terus bergerak. Perbasi ingin standar yang diterapkan pada kesempatan berikutnya sejalan dengan kebutuhan event tingkat Asia dan dunia.
Di tengah agenda besar itu, dukungan FIBA disebut memberi tambahan keyakinan bagi Perbasi. Nirmala juga menilai dukungan masyarakat akan sangat menentukan agar pelaksanaan empat turnamen tersebut berjalan lancar.
Perbasi memandang sinergi antara federasi internasional, federasi nasional, dan publik lokal sebagai kunci keberhasilan. Karena itu, semua pihak diminta bergerak seirama supaya Indonesia benar-benar siap saat turnamen dimulai.
Tantangan Indonesia tidak berhenti pada urusan teknis penyelenggaraan. Federasi juga harus memastikan tim nasional punya kesiapan untuk bersaing di level tertinggi ketika tampil di hadapan publik sendiri.
Situasi itu membuat pembinaan tim dan kesiapan venue harus berjalan berdampingan. Status sebagai tuan rumah memang membuka kesempatan untuk memperkuat posisi Indonesia di basket Asia dan dunia, tetapi kepercayaan itu juga menuntut kerja yang rapi di lapangan dan di balik layar.
