Enam rumah sakit di Sleman kini telah menyandang predikat Rumah Sakit Siaga Stroke berstandar internasional. Jaringan itu membuat penanganan stroke di daerah tersebut tidak lagi bertumpu pada satu titik layanan, melainkan tersusun dalam sistem rujukan yang saling terhubung.
Keenam rumah sakit itu adalah RSUD Sleman, RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RS JIH, RSIY PDHI, dan RS Hermina. Kehadiran jaringan fasilitas ini memperkuat peluang pasien mendapatkan penanganan lebih cepat sesuai standar medis saat kondisi darurat terjadi.
Di balik pengakuan sebagai Kabupaten Siaga Stroke pertama di Indonesia, Sleman membangun layanan sejak gejala awal muncul. Pemerintah daerah mendorong deteksi di tingkat masyarakat agar tanda-tanda stroke lebih cepat dikenali dan pasien segera diarahkan ke fasilitas kesehatan yang tepat.
Langkah tersebut diperkuat dengan pembentukan kader siaga stroke hingga tingkat puskesmas. Mereka dilatih untuk membantu mengenali gejala awal dan mempercepat proses rujukan, sehingga rantai pertolongan bisa bergerak lebih cepat ketika menit-menit awal menjadi sangat menentukan.
Fokus itu sejalan dengan prinsip “time is brain”, yakni kondisi stroke sangat bergantung pada kecepatan penanganan. Keterlambatan beberapa menit saja dapat meningkatkan risiko kerusakan otak permanen, sehingga jalur layanan yang ringkas dan cepat menjadi kebutuhan utama.
Penghargaan atas capaian ini diberikan oleh Angels Initiative dan World Stroke Organization Indonesia kepada Kabupaten Sleman. Penyerahan dilakukan oleh Ketua Angels Initiative dan World Stroke Organization Indonesia, Rika Aprijanti Hutagalung, kepada Bupati Sleman, Harda Kiswaya, di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Senin (11/5).
Perwakilan Angels Initiative, Fiarry Fikaris, menilai capaian tersebut lahir dari sinergi yang dibangun secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga menyebut kerja keras Tim Sleman Siaga Stroke ikut mengantarkan daerah itu meraih pengakuan internasional.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar pencapaian administratif. Menurut dia, keberhasilan tersebut lahir dari komitmen bersama seluruh elemen kesehatan di Sleman, termasuk rumah sakit mitra, Sleman Emergency Service, tenaga kesehatan, dan kader siaga stroke yang telah mendapat pelatihan khusus.
Harda juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat agar gejala awal stroke lebih cepat dikenali. Ia menambahkan bahwa pengakuan yang diterima Sleman membawa tanggung jawab baru untuk menjaga sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan di daerah itu.
Dukungan terhadap capaian Sleman juga datang dari Pemerintah Daerah DIY. Kepala Dinas Kesehatan DIY, Anung Trihadi, yang membacakan sambutan Gubernur DIY, menyebut Sleman dapat menjadi model nasional dalam membangun sistem siaga stroke berbasis daerah.
“Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Kabupaten Sleman,” ujar Anung. Ia berharap daerah lain dapat meniru pola kerja yang mengutamakan layanan cepat, terpadu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Dengan penguatan deteksi di masyarakat, jalur rujukan yang lebih rapat, dan rumah sakit yang sudah berstandar internasional, Sleman kini tampil sebagai contoh bagaimana penanganan stroke bisa dibangun sebagai sistem utuh. Pengakuan ini sekaligus menegaskan bahwa keselamatan pasien sangat ditentukan oleh kecepatan, koordinasi, dan kesiapan di setiap tahap layanan.
Source: mediaindonesia.com






