EQ dan SQ Anak Ternyata Sama Pentingnya dengan IQ, Ini Peringatan untuk Orang Tua

Kecerdasan akademik bukan satu-satunya bekal yang menentukan kesiapan anak menghadapi masa depan. Kecerdasan emosi atau EQ serta kecerdasan sosial atau SQ dinilai sama pentingnya karena ikut membentuk cara anak memahami diri sendiri, mengelola perasaan, dan berhubungan dengan orang lain.

Pesan itu mengemuka dalam Family’s Days Out Roadshow to Bandung yang digelar Teman Bumil & Parenting di Nara Park Bandung dengan tema “A Day to Be Brave, More Days to Feel Safe”. Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 keluarga itu menyoroti kesehatan mental dan emosional anak sejak dini.

Bekal anak tidak cukup dari nilai akademik

Psikolog Klinis Anak dan Remaja serta Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa anak kelak tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual. Mereka juga perlu mampu mengenali emosi sendiri, memahami orang lain, dan membangun relasi yang sehat.

Menurut Ayoe, EQ mencakup kemampuan mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri secara sehat. Sementara itu, SQ berkaitan dengan kemampuan memahami orang lain, berinteraksi secara efektif, dan membangun hubungan yang bermakna.

Lingkungan keluarga memegang peran besar

Perkembangan emosi anak tidak hanya dipengaruhi faktor biologis. Lingkungan keluarga, pola asuh, dan budaya tempat anak tumbuh ikut membentuk kemampuan emosional serta sosial mereka.

Ayoe menyebut faktor genetik berkontribusi sekitar 50 persen terhadap stabilitas emosi. Namun, pola pelekatan, gaya pengasuhan, dan kestabilan emosi orang tua juga memberi pengaruh kuat pada perkembangan anak.

Karena itu, orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda awal perkembangan mental dan emosional anak. Langkah ini penting agar potensi masalah bisa dikenali lebih cepat sebelum berkembang lebih jauh.

Skrining dini untuk anak prasekolah

Salah satu upaya yang disorot dalam kegiatan tersebut adalah skrining kesehatan mental dan emosional. Fitur Psikolog Corner by Teman Bumil & Parenting disebut dapat membantu orang tua memahami kondisi psikologis anak secara lebih awal.

Layanan utamanya menggunakan Kuesioner Masalah Mental Emosional atau KMME, pedoman resmi Kementerian Kesehatan RI. Skrining ini ditujukan untuk mendeteksi dini masalah mental dan emosional pada anak usia prasekolah, yakni 3-6 tahun.

Orang tua hanya perlu menjawab delapan pertanyaan. Hasilnya langsung menunjukkan apakah kondisi anak tergolong normal, perlu konsultasi, atau ada indikasi penyimpangan yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

Kesehatan mental orang tua ikut menentukan suasana rumah

Selain kondisi anak, kesehatan mental orang tua juga menjadi perhatian dalam acara tersebut. Psikolog Klinis Anak dan Remaja Melissa Luckyanti, M.Psi., Psikolog, mengatakan banyak ibu yang datang berkonsultasi sebenarnya membutuhkan ruang untuk bercerita tentang beban yang mereka alami.

Melissa menyebut sebagian ibu merasa tidak mampu menjadi orang tua yang baik karena masih menghadapi masalah mental dan emosional yang belum selesai. Persoalan itu bisa muncul dari baby blues hingga konflik dengan pasangan.

Temuan itu menunjukkan hubungan yang erat antara kesehatan mental orang tua dan anak. Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang aman secara emosional, kemampuan mereka untuk mengelola emosi dan bersosialisasi cenderung lebih baik.

Melalui Family’s Days Out dan peluncuran Psikolog Corner, Teman Bumil & Parenting mendorong orang tua melihat tumbuh kembang anak secara lebih utuh. Keberhasilan anak tidak hanya bergantung pada nilai akademik, tetapi juga pada kecerdasan emosi dan sosial yang dibangun sejak awal kehidupan.

Source: www.suara.com
Berita Terkait