Es Laut Antartika Pecah Rekor Terendah, Kekhawatiran Baru Soal Ketahanan Benua Selatan

Author: Redaksi Android62

Penurunan es laut di sekitar Antartika pada 2023 menjadi sinyal paling mencolok bahwa wilayah yang lama dianggap stabil itu mulai berubah cepat. Bagi para peneliti, rekor terendah ini bukan sekadar fluktuasi musiman biasa, melainkan tanda bahwa pola lama di benua selatan sedang bergeser.

Yang membuat situasi ini lebih serius adalah latar belakangnya yang panjang. Selama bertahun-tahun, data satelit sejak akhir 1970-an menunjukkan es laut Antartika cenderung bergerak naik-turun dari musim ke musim dengan pola yang relatif konsisten, bahkan sempat meningkat pada 2007 hingga 2015.

Perubahan yang berbalik tajam

Arah itu kemudian berubah setelah 2015 dan penurunannya makin dalam. Para ilmuwan menilai kejadian ekstrem yang terjadi belakangan ini hanya memiliki peluang sekitar satu banding 3,5 juta jika muncul secara kebetulan.

Temuan tersebut ikut mengguncang perkiraan lama tentang daya tahan Antartika terhadap pemanasan global. Wilayah yang dulu dipandang lambat merespons kini justru memperlihatkan tanda kehilangan ketahanan yang semakin jelas.

Tiga dorongan besar di Samudra Selatan

Penelitian internasional yang terbit di Science Advances menjelaskan bahwa perubahan ini tidak muncul dari satu penyebab tunggal. Aditya Narayanan dari University of Southampton, penulis utama studi itu, menyebutnya sebagai “triple whammy” yang bekerja di Samudra Selatan.

Dorongan pertama datang dari emisi gas rumah kaca dan dampak lubang ozon yang memperkuat angin di sekitar Antartika. Angin yang makin kuat mendorong air hangat dan asin dari lapisan dalam laut naik ke permukaan, lalu panas yang tersimpan selama puluhan tahun ikut dilepaskan.

Kondisi ini menciptakan umpan balik yang membuat es laut sulit pulih cepat. Begitu lapisan atas menerima panas dari bawah, proses pencairan menjadi lebih mudah berulang.

Lapisan pelindung laut yang melemah

Selama puluhan tahun, laut di sekitar Antartika memiliki susunan lapisan yang cukup stabil. Bagian atasnya berisi air dingin dan relatif tawar, sedangkan di bawahnya tersimpan air yang lebih hangat dan asin.

Struktur itu bekerja seperti penutup alami yang menahan panas di kedalaman. Menjelang 2015, penghalang ini mulai melemah, dan tim peneliti melihat massa air hangat yang dikenal sebagai circumpolar deep water bergerak makin dekat ke permukaan.

Untuk membaca perubahan tersebut, para peneliti memakai data kelautan dan model resolusi tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa naiknya air hangat itu memudahkan panas mencairkan es laut dari bawah.

Respons yang tidak sama di timur dan barat

Pola penurunan es laut tidak seragam di seluruh Antartika. Di Antartika Timur, pemicu utamanya adalah panas laut dalam yang naik ke atas.

Di Antartika Barat, ceritanya berbeda karena tutupan awan yang meningkat ikut menahan panas lebih lama di permukaan laut. Perubahan awan ini terkait pergerakan udara hangat dari wilayah subtropis dan ikut mempercepat pencairan es dari atas.

Matthew England dari UNSW menilai rangkaian proses itu menunjukkan bahwa atmosfer, laut, dan es saling memengaruhi. Karena itu, respons sistemnya bisa cepat sekaligus sulit diprediksi.

Dampak ke rantai kehidupan laut

Es laut memegang peran penting dalam ekosistem Antartika. Di dalam dan di bawah lapisan es itu hidup alga mikroskopis yang menjadi makanan utama krill, lalu krill menjadi sumber makanan bagi penguin, anjing laut, paus, dan burung laut.

Salah satu spesies yang paling bergantung pada kondisi ini adalah penguin kaisar. Mereka membutuhkan es laut yang stabil untuk berkembang biak, berganti bulu, dan beristirahat, terutama pada periode April hingga Desember.

Penurunan es laut yang cepat pada 2022–2024 memicu kegagalan reproduksi besar-besaran. Banyak anak penguin tenggelam atau mati kedinginan sebelum bulunya cukup tahan air.

Risiko yang menjalar ke sistem iklim

Perubahan ini tidak berhenti pada ekosistem. Permukaan es laut yang terang selama ini membantu memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa, sehingga laut menyerap lebih sedikit energi dan pemanasan berjalan lebih lambat.

Es laut juga mendukung sirkulasi global yang memindahkan air hangat ke kutub dan menenggelamkan air dingin yang padat ke dasar samudra. Proses itu penting karena membantu menyimpan panas dan karbon jauh di bawah permukaan.

Kini para ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Antartika tidak lagi berperan sebagai penahan pemanasan, melainkan bisa ikut memperkuatnya. Jika penyusutan es laut berlanjut, laut akan menyerap lebih banyak panas dan kemampuan Samudra Selatan menyimpan karbon serta panas dapat melemah, sementara kestabilan lapisan es yang menahan gletser juga ikut terancam.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru