Pemasangan turbin angin skala utilitas di lokasi terpencil tidak lagi harus selalu bergantung pada crane raksasa. Di Namibia, pendekatan baru itu sudah diuji lewat pemasangan turbin Goldwind GW165/6000 di ladang angin InnoVent Diaz, dan hasil awalnya langsung menghasilkan listrik.
Fortescue melalui anak usahanya, Nabrawind, memakai teknologi Total Self Erecting System dan Skylift untuk pekerjaan tersebut. Meski crane cadangan masih terlihat di lokasi sebagai langkah antisipasi, pemasangan utama dilakukan tanpa crane besar.
Langkah ini menarik perhatian karena proyek angin sering justru tersendat di tahap logistik. Lokasi yang paling ideal untuk ladang angin biasanya berada di area dengan hembusan kuat dan jauh dari pusat distribusi peralatan, sehingga membawa crane besar menjadi salah satu bagian tersulit dan termahal dari pembangunan.
Nabrawind menyebut sistemnya dirancang agar tetap dapat bekerja di kondisi angin yang tidak stabil. Teknologi itu ditujukan untuk kecepatan angin sekitar 15 meter per detik atau 33 mil per jam, dengan hembusan sampai 20 meter per detik atau sekitar 45 mil per jam.
Di sisi lain, metode konvensional dengan crane besar punya batas yang jauh lebih ketat pada beberapa tahap penting instalasi. Dalam sejumlah langkah pemasangan, crane tradisional bisa dibatasi pada kisaran enam hingga delapan meter per detik, atau sekitar 13 sampai 18 mil per jam, sehingga jendela cuaca yang tersedia menjadi lebih sempit.
Perbedaan itulah yang membuat pendekatan baru ini dinilai menjanjikan. Ketika ruang kerja crane tidak lagi menjadi hambatan utama, proses pembangunan turbin di lokasi ekstrem berpotensi berjalan lebih cepat dan lebih mudah diprediksi.
Nabrawind juga mengklaim sistem ini tidak terbatas pada satu desain turbin saja. Teknologinya disebut dapat digunakan pada beberapa jenis turbin dan menara yang sudah ada, sehingga pemasangan tidak harus menunggu rancangan khusus yang dibuat dari awal.
InnoVent Diaz dipilih sebagai tempat uji karena berada di salah satu zona angin terkaya di dunia. Nabrawind berencana memasang total tujuh turbin di lokasi itu dengan pendekatan yang sama, lalu menekan siklus instalasi bersih menjadi sekitar satu minggu pada turbin ketujuh.
Target tersebut menunjukkan bahwa efisiensi waktu menjadi salah satu nilai utama dari metode ini. Jika crane raksasa tidak perlu selalu dibawa ke lokasi, pengangkutan alat berat dan waktu henti proyek dapat berkurang secara signifikan.
Dampaknya tidak berhenti pada tahap konstruksi. Biaya proyek berpotensi turun karena kebutuhan logistik menjadi lebih ringan, sementara jadwal pembangunan juga bisa disederhanakan dan dibuat lebih andal.
Bagi sektor energi, model seperti ini memberi peluang untuk menambah pasokan listrik bersih tanpa beban operasional yang sama besar seperti metode lama. Efisiensi yang lebih baik juga dapat membantu utilitas, kota, dan perusahaan mempercepat masuknya energi angin ke jaringan.
Pada saat yang sama, pembangunan yang lebih murah dan cepat ikut mendukung upaya menekan penggunaan bahan bakar fosil. Bagi Fortescue, pencapaian ini juga sejalan dengan ambisi net-zero yang mereka dorong melalui pengembangan teknologi tersebut.
Uji di Namibia pada akhirnya memperlihatkan satu hal penting: pemasangan turbin angin di lokasi ekstrem tidak selalu harus bertumpu pada peralatan paling besar. Dalam kondisi yang tepat, pendekatan tanpa crane raksasa dapat membuka jalan bagi pembangunan yang lebih singkat, lebih fleksibel, dan lebih mudah dijalankan.
