Mobil listrik murni atau EV semakin menjadi pusat perhatian dalam peta otomotif global. Di saat yang sama, mesin bensin dan hybrid masih belum benar-benar tersisih karena banyak konsumen dan pabrikan masih menempatkannya sebagai pilihan yang relevan.
Perubahan arah ini membuat industri otomotif bergerak ke fase yang lebih cepat dan lebih sulit ditebak. Persaingan kini tidak hanya soal desain dan performa, tetapi juga elektrifikasi, digitalisasi, serta kemampuan kendaraan terhubung dengan teknologi pintar.
Kabinnya ikut berubah jadi lebih digital
Salah satu perubahan paling terasa justru terjadi di dalam mobil. Banyak tombol fisik mulai digantikan layar beresolusi tinggi, lalu head-up display berbasis augmented reality dan asisten suara pintar juga makin sering digunakan.
Perubahan ini membuat pengalaman pengguna naik kelas dan ikut memengaruhi keputusan pembelian. Tenaga mesin tetap penting, tetapi kenyamanan digital, kemudahan pengoperasian, dan fitur pintar kini punya bobot yang semakin besar.
Toyota dan Tesla sama-sama dorong arah baru
Toyota menjadi salah satu nama yang ikut menegaskan pergeseran tersebut. Setelah lama kuat di teknologi hybrid, pabrikan Jepang itu disebut semakin agresif mengembangkan EV murni dengan fokus pada baterai generasi baru.
Arah pengembangan itu ditujukan untuk memperpanjang jarak tempuh dan memangkas waktu pengisian daya. Dari sisi industri, efisiensi baterai memang masih menjadi faktor utama dalam perebutan pasar mobil listrik.
Tesla juga tetap berada di barisan depan sebagai pionir EV. Produsen asal Amerika Serikat itu diperkirakan akan menghadirkan model baru dengan harga yang lebih kompetitif.
Selain harga, Tesla masih mengandalkan penyempurnaan autopilot dan sistem pembaruan over-the-air. Kombinasi itu membuat kendaraan bisa terus ditingkatkan tanpa perubahan fisik besar, sekaligus memperkuat citra mobil sebagai produk digital yang terus hidup.
Hyundai dan kabin minimalis yang serba digital
Hyundai juga bergerak dengan langkah yang agresif. Pabrikan Korea Selatan itu mendorong platform listrik modular dengan desain futuristik dan kabin minimalis yang terasa sangat digital.
Model terbarunya disebut akan mengandalkan fitur keselamatan berbasis AI. Sistem hiburan modern dan tata ruang interior digital menjadi bagian penting dari strategi untuk menarik konsumen yang mencari mobil canggih dan efisien.
Jetour T2 dan daya tarik PHEV
Di tengah menguatnya EV, model lain tetap ikut mencuri perhatian melalui pendekatan yang lebih fleksibel. Jetour T2 tampil dengan desain boxy yang tegas dan memberi kesan maskulin, lalu dipadukan dengan interior yang menonjolkan kenyamanan dan teknologi modern.
Varian plug-in hybrid atau PHEV membuat mobil ini bisa memakai tenaga listrik penuh untuk kebutuhan harian. Pendekatan tersebut berpotensi menekan biaya operasional, terutama bagi pengguna yang sering berkendara jarak pendek.
Jetour juga membawa konsep Travel+ sebagai nilai tambah. Ekosistem itu berisi berbagai keuntungan bagi pengguna, termasuk diskon hotel dan restoran, sementara di pasar Indonesia merek ini menawarkan garansi hingga 6 tahun tanpa batas kilometer.
Ada pula gratis servis selama 3 tahun sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan pasar. Tantangannya tetap besar karena Jetour masih tergolong baru masuk sejak 2024.
Lepas L8 menambah warna persaingan hybrid
Nama lain yang ikut menarik perhatian adalah Lepas L8. Model ini mengusung teknologi hybrid dan menonjol lewat efisiensi jarak tempuh yang disebut bisa mencapai sekitar 1.300 km dalam kondisi kombinasi bahan bakar dan listrik.
Fitur yang dibawa juga cukup lengkap, mulai dari automatic parking, remote parking, sistem ADAS, kursi pijat, hingga Vehicle to Load atau V2L untuk kebutuhan listrik eksternal. Pengisian daya cepatnya juga ikut menjadi sorotan karena dari 30 persen ke 80 persen diklaim hanya memerlukan sekitar 20 sampai 22 menit.
Mesin bensin masih punya ruang di pasar
Meski sorotan besar mengarah ke EV, mesin konvensional belum hilang dari pasar. Sejumlah produsen masih mempertahankan mesin bensin dan hybrid performa tinggi untuk menjawab kebutuhan konsumen yang belum seragam.
Kondisi ini menciptakan masa transisi yang tidak berjalan lurus ke satu arah. Konsumen masih bisa memilih antara efisiensi listrik, fleksibilitas hybrid, dan sensasi berkendara yang masih ditawarkan mesin konvensional.
Karena itu, 2026 belum bisa disebut sebagai penanda berakhirnya mobil berbahan bakar bensin. Namun, arah persaingan sudah jelas bergeser menuju kendaraan yang lebih efisien, lebih terhubung, dan lebih digital, sementara kesiapan infrastruktur pengisian daya dan terus turunnya harga baterai akan ikut menentukan seberapa cepat perubahan itu meluas.







