Evaluasi Kurniawan Usai Timnas U-17 Gagal Lolos, Serangan Balik Jadi Pekerjaan Rumah

Author: Redaksi Android62

Kegagalan Timnas Indonesia U-17 melaju ke fase gugur Piala AFF U-17 2026 menjadi sorotan utama setelah mereka hanya bermain imbang 0-0 melawan Vietnam. Hasil itu membuat langkah Garuda Muda terhenti lebih cepat dari target, meski tampil sebagai tuan rumah.

Di tengah hasil tersebut, pelatih Kurniawan Dwi Yulianto menegaskan bahwa persoalan timnya tidak berhenti pada soal pertahanan yang rapat. Ia menilai titik lemah terbesar justru muncul saat tim berusaha berpindah dari bertahan ke menyerang, terutama ketika skema serangan balik tidak berjalan efektif.

Transisi jadi pekerjaan rumah utama

Kurniawan menjelaskan bahwa tim pelatih memang sudah menyiapkan rencana bermain dengan blok yang rapat dan mengandalkan serangan balik. Namun, rencana itu belum menghasilkan ancaman yang cukup ketika Indonesia berhasil merebut bola dan mencoba keluar dari tekanan lawan.

“Kami menyiapkan game plan bertahan dan counter attack. Tapi saat melakukan serangan balik, hasilnya belum maksimal dan ini menjadi catatan sebelum kami bertanding di Piala Asia,” kata Kurniawan melansir ANTARA.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa evaluasi tim tidak diarahkan hanya pada hasil akhir. Fokus utamanya ada pada momen-momen kecil yang menentukan apakah sebuah pemulihan bola bisa berubah menjadi peluang, atau justru berhenti di tengah jalan.

Strategi bertahan bukan keputusan mendadak

Pendekatan defensif yang dipakai saat menghadapi Vietnam bukan lahir hanya untuk satu pertandingan. Kurniawan menyebut pola tersebut memang sudah menjadi bagian dari persiapan menuju Piala Asia, sehingga laga di Piala AFF U-17 2026 dipakai sebagai ajang untuk menguji berbagai aspek permainan sedini mungkin.

Situasi di lapangan juga dipengaruhi karakter lawan. Vietnam dinilai tampil agresif pada dua laga sebelumnya, sehingga Indonesia memilih lebih berhati-hati dan menunggu momen yang tepat untuk keluar menyerang.

Menurut Kurniawan, para pemain sudah menjalankan instruksi dengan cukup baik. Meski begitu, keberhasilan bertahan belum sepenuhnya diikuti ketajaman saat transisi menyerang, dan itulah yang menjadi catatan besar bagi staf pelatih.

Lini depan butuh dukungan lebih efisien

Kurniawan juga menyoroti konsekuensi dari penggunaan lima pemain di belakang. Formasi seperti itu memang membuat pertahanan lebih aman, tetapi di sisi lain dukungan ke sektor depan menjadi lebih terbatas.

Karena itu, tim harus jauh lebih efisien ketika bola berhasil direbut kembali. Setiap serangan balik dituntut lebih cepat berkembang agar bisa mengubah tekanan lawan menjadi peluang yang benar-benar mengancam.

“Ketika kami bermain dengan lima pemain di belakang, dukungan ke depan memang lebih sedikit. Jadi kami harus memaksimalkan counter attack,” ujarnya.

Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa masalah utama bukan semata disiplin bertahan. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara kerja keras di area belakang dan kualitas eksekusi saat tim mulai menyerang kembali.

Seleksi pemain menuju Piala Asia mulai berjalan

Di luar persoalan taktik, staf pelatih juga mulai menyiapkan tahap berikutnya untuk Piala Asia. Dari 50 nama dalam daftar awal, hanya 23 pemain terbaik yang akan dipilih masuk skuad utama.

Kurniawan mengatakan proses evaluasi itu masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Ia juga mengonfirmasi adanya tambahan tiga penjaga gawang, yakni Matt Baker, Noah, dan Mike.

“Dalam beberapa hari ke depan kita akan evaluasi untuk memilih pemain terbaik,” ucapnya.

Tahap ini menjadi penting karena hasil di Piala AFF U-17 2026 menunjukkan bahwa tim masih perlu membenahi detail eksekusi permainan. Pemilihan pemain terbaik diharapkan bisa menghadirkan kombinasi taktik dan kesiapan mental yang lebih matang untuk turnamen selanjutnya.

Abdillah Ishak mendapat perhatian positif

Di tengah hasil yang mengecewakan, nama Abdillah Ishak mencuri perhatian lewat penampilannya di bawah mistar. Kiper muda itu mencatat sejumlah penyelamatan penting dan menjadi salah satu pemain yang paling menonjol di laga melawan Vietnam.

Abdillah mengaku bisa tampil lebih lepas karena mendapat kepercayaan dari pelatih. “Saya bermain lepas saja karena sudah diberikan kepercayaan oleh pelatih dan saya tidak mau membuat malu negara ini,” katanya.

Ia juga menyebut masih ingin terus berkembang lewat latihan dan laga uji coba. Bagi Abdillah, kepercayaan dari staf pelatih menjadi bekal penting bagi pemain muda agar bisa tampil lebih stabil saat menghadapi pertandingan yang lebih berat.

Hasil imbang tanpa gol melawan Vietnam menutup perjalanan Timnas Indonesia U-17 lebih cepat dari harapan, tetapi evaluasi yang dilakukan justru membuka gambaran yang lebih jelas tentang apa yang perlu diperbaiki. Perhatian kini mengarah pada perbaikan transisi permainan, penyempurnaan serangan balik, serta seleksi 23 pemain terbaik untuk menghadapi Piala Asia.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru