Firman Utina melontarkan kritik keras terhadap pelatih kiper Bhayangkara FC U-20 setelah kericuhan mewarnai laga Elite Pro Academy U-20 melawan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang. Ia menyoroti keterlibatan seorang pelatih dalam insiden baku tumbuk yang dinilai tidak pantas terjadi di kompetisi usia muda.
Keterangan Firman itu muncul di tengah ramainya pembahasan publik soal video keributan yang beredar luas setelah pertandingan matchday ke-33 tersebut. Sorotan tidak hanya tertuju pada kekalahan Bhayangkara FC, tetapi juga pada dugaan tindakan kekerasan dari oknum staf ofisial tim terhadap pemain lawan.
Kritik keras dari Firman Utina
Firman Utina, yang dikenal sebagai legenda Timnas Indonesia, menilai pelatih seharusnya menjaga wibawa dan memberi contoh, bukan ikut terseret emosi. Ia menyampaikan kecaman langsung kepada pihak yang disebut terlibat dalam kericuhan, dengan nada yang menunjukkan kekecewaan mendalam.
Pernyataan Firman yang paling disorot berbunyi, “Kamu tuh pelatih, bukan pemain. Makanya kursus jangan tidur supaya belajar sama-sama. Ini bukan zaman lo main. Nanti kita ketemu ya, coach,” yang menegaskan penolakannya terhadap tindakan staf pelatih yang ikut terlibat dalam pertikaian.
Ucapan itu memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak dianggap sekadar adu emosi sesaat. Bagi Firman, posisi pelatih di lapangan membawa tanggung jawab yang lebih besar karena mereka menjadi contoh langsung bagi pemain muda.
Insiden yang memicu sorotan publik
Kericuhan di Stadion Citarum menjadi perhatian karena terjadi setelah laga berakhir panas. Dari rekaman yang tersebar, suasana terlihat memanas usai Bhayangkara FC menelan kekalahan, lalu muncul dugaan adanya kekerasan yang dilakukan oleh oknum staf ofisial terhadap pemain lawan.
Situasi tersebut membuat perbincangan bergeser dari hasil pertandingan ke perilaku di luar batas sportivitas. Publik pun menyoroti bahwa insiden itu melibatkan elemen tim yang semestinya menjaga ketertiban pertandingan.
Karena video kericuhan beredar luas, kasus ini cepat menjadi bahan evaluasi bagi banyak pihak. Insiden di level pembinaan muda dianggap punya dampak yang lebih luas dibanding pertandingan biasa.
Sorotan pada pembinaan dan karakter pemain muda
Keributan di ajang EPA U-20 dinilai memprihatinkan karena kompetisi ini dirancang sebagai ruang pembinaan. Di level ini, pemain muda seharusnya belajar disiplin, teknik, mental bertanding, dan cara mengelola tekanan, bukan melihat pertunjukan emosi dari orang dewasa di sekeliling mereka.
Ketika tensi pertandingan berubah menjadi kejadian fisik, nilai pendidikan dalam kompetisi ikut dipertanyakan. Hal seperti ini dinilai bisa memengaruhi cara pemain muda memahami sepak bola dan membentuk sikap mereka di lapangan.
Kondisi tersebut semakin sensitif karena para pemain U-20 masih berada dalam masa perkembangan. Oleh karena itu, tindakan yang mereka lihat langsung dari pelatih maupun ofisial dapat menjadi contoh yang mudah tertanam.
Rakha Nurkholis juga jadi perhatian
Selain mengecam dugaan kekerasan yang melibatkan pihak Bhayangkara FC U-20, Firman juga menaruh perhatian pada Rakha Nurkholis, pemain Dewa United U-20 yang disebut menjadi korban dalam insiden itu. Ia menyampaikan doa agar Rakha segera pulih, sekaligus menekankan pentingnya keselamatan pemain muda dalam setiap pertandingan.
Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa kasus ini tidak dipandang sebagai keributan biasa di atas lapangan. Pada kompetisi usia muda, perlindungan terhadap pemain harus menjadi prioritas karena mereka masih berada dalam tahap belajar menghadapi tekanan pertandingan.
Kehadiran pelatih dalam dugaan kekerasan membuat masalah ini terasa lebih serius. Saat orang yang seharusnya membimbing justru ikut terpancing, pesan yang diterima pemain muda bisa menjadi keliru dan bertentangan dengan tujuan pembinaan.
PSSI belum mengeluarkan keputusan
Hingga kini, Komisi Disiplin PSSI belum mengeluarkan keputusan resmi terkait sanksi atas insiden di Semarang. Kondisi itu membuat perhatian publik masih tertuju pada langkah yang akan diambil otoritas sepak bola nasional.
Kasus ini juga kembali mengingatkan bahwa kompetisi kelompok usia muda membutuhkan kontrol emosi yang kuat dari semua pihak. Di balik dorongan mengejar prestasi, rasa hormat kepada lawan dan kedewasaan di lapangan tetap menjadi bagian penting dari pembinaan sepak bola.







