Di Los Silos, La Guaira, keluarga korban gempa Venezuela harus menghadapi kenyataan paling pahit dengan menatap ratusan foto jenazah yang diputar tanpa henti di layar televisi dan iPad. Banyak dari mereka baru bisa mengetahui nasib orang terkasih setelah berhari-hari mencari rumah sakit, tempat penampungan, dan reruntuhan.
Di tengah panas yang menyengat dan bau pembusukan yang langsung terasa saat memasuki area itu, suasana berubah menjadi ruang duka yang sunyi dan tegang. Di fasilitas penyimpanan pelabuhan yang diubah menjadi kamar jenazah darurat itu, tubuh para korban disusun berdasarkan waktu ditemukan, sementara petugas membantu proses identifikasi dengan catatan gigi, tato, bekas luka, dan barang-barang pribadi.
Proses identifikasi yang melelahkan
Bagi banyak keluarga, mengenali korban tidak lagi bisa dilakukan hanya melalui wajah. Sebagian jenazah sudah membengkak, kulit menggelap, atau mengalami luka yang membuat ciri fisik sulit dikenali.
Karena itu, keluarga diminta memperhatikan petunjuk sekecil apa pun, mulai dari gelang, potongan pakaian, tato, hingga barang dari rumah. Petugas sesekali memperbesar gambar gigi atau bekas luka di layar iPad untuk membantu menghubungkan identitas korban dengan laporan keluarga.
Di salah satu ujung lokasi, tersedia layanan kremasi gratis. Di ujung lainnya, spesialis forensik bekerja dengan catatan gigi untuk mengenali korban yang kondisi jasadnya sudah jauh berubah.
Duka yang muncul satu per satu
Di ruang yang sama, emosi keluarga meledak bergantian ketika seorang perempuan menangis setelah mengenali putranya dari selimut berdebu. Seorang perempuan asing kemudian memeluknya, sementara orang-orang di sekitarnya tetap diam menahan perasaan masing-masing.
Telepon yang berdering sesekali memecah keheningan. Seorang pria muda berbisik bahwa ia masih mencoba mengidentifikasi ibunya, tetapi kondisi jenazah membuat proses itu sangat sulit.
Liliana González, 60 tahun, warga Catia La Mar, datang untuk mencari bibinya tetapi justru mengenali keponakannya yang berusia 37 tahun lewat tato. Ia mengatakan nama keponakannya tidak tercantum dalam daftar, sehingga ia harus memeriksa gambar-gambar jenazah satu per satu.
Baginya, proses itu terasa seperti mimpi buruk. Liliana mengaku pengalaman tersebut mengingatkannya pada kematian ibunya sendiri, tetapi rasa sakit kali ini berbeda karena ia harus berhadapan langsung dengan gambar-gambar korban.
Menunggu giliran kehilangan
Modesta Alemán, 56 tahun, datang dari Carayaca di barat La Guaira untuk mencari kakak perempuannya, Matilde, yang tinggal di Playa Grande. Wilayah itu menjadi salah satu area yang paling parah terdampak gempa, dan banyak keluarga datang dengan harapan tipis.
Ia mengatakan tidak ada yang selamat dari bangunan itu, meski para relawan sempat mendengar suara orang memanggil dari dalam. Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil mengeluarkan mereka.
Modesta menunggu di luar kamar jenazah darurat saat anggota keluarga lain menjalani proses identifikasi. Setelah sebuah jenazah dikenali, proses berikutnya masih panjang karena sidik jari diambil bila memungkinkan, lalu jenazah dimasukkan ke peti mati dan dokumen surat kematian mulai diproses.
Jéssica Soto, 42 tahun, juga menunggu di pintu masuk Los Silos untuk mengetahui kabar putrinya yang berusia 15 tahun dan cucu perempuannya yang berusia tiga tahun. Keduanya terjebak di apartemen setelah gempa, dan jenazah mereka baru ditemukan pada Selasa, hampir sepekan kemudian.
Ia mengatakan urusan dokumen, truk pengangkut, dan berbagai proses lain masih harus menunggu, sementara peti mati dibiarkan di bawah matahari sejak hari sebelumnya. Di tengah kelelahan dan rasa takut, banyak keluarga hanya bisa bertahan dengan satu harapan yang menyakitkan: nama orang yang mereka cari benar-benar ada di antara deretan jenazah di Los Silos.
Bencana yang meninggalkan pekerjaan panjang
Gempa kembar Venezuela menewaskan lebih dari 2.600 orang dan membuat identifikasi korban menjadi pekerjaan besar yang belum selesai. Dengan infrastruktur rusak dan layanan lokal kewalahan, jenazah harus ditangani di luar ruangan atau di tenda sementara sebelum bisa diidentifikasi dan diproses lebih lanjut.
Kondisi itu membuat keluarga tidak hanya berhadapan dengan kehilangan, tetapi juga dengan penantian panjang untuk mendapat kepastian. Bagi sebagian dari mereka, pencarian masih harus berlanjut karena sejumlah korban lain belum ditemukan dari bawah reruntuhan.
