Temuan polisi soal kondisi di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, membuat sorotan bergeser dari citra manis yang ditampilkan ke cara tempat itu diduga membangun kepercayaan orang tua. Di balik tampilan rapi, agamis, dan profesional, pengelola disebut memakai janji fasilitas, foto yang meyakinkan, serta pembatasan kunjungan untuk memperkuat kesan aman.
Nama yang paling banyak disorot dalam kasus ini adalah Diyah Kusumastuti, Ketua Yayasan Little Aresha. Ia disebut menjadi sosok yang menawarkan berbagai kemudahan sehingga daycare itu tampak seperti tempat penitipan premium yang layak dipercaya.
Janji layanan yang dibuat meyakinkan
Little Aresha memasarkan diri lewat brosur dan penawaran yang memberi kesan fasilitasnya berada di atas rata-rata. Kesan yang dibangun adalah pengasuhan yang penuh perhatian, nyaman, dan cocok untuk orang tua yang ingin layanan lengkap.
Di bagian layanan anak, daycare itu menjanjikan rasio pengasuh yang ideal. Untuk kelas bayi, satu pengasuh atau bidan disebut menangani maksimal dua anak, sedangkan kelas toddler dijanjikan dua pengasuh untuk tiga sampai empat anak.
Namun, temuan polisi menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Satu pengasuh disebut harus menangani tujuh hingga sepuluh anak sekaligus, dan sebanyak 20 anak disebut ditempatkan dalam satu ruangan berukuran 3×3 meter.
Citra religius dan fasilitas lengkap
Selain menjual kenyamanan, Little Aresha juga menonjolkan nilai Islam sebagai daya tarik utama. Kombinasi layanan kesehatan, pendidikan, dan kegiatan keagamaan dipakai untuk meyakinkan orang tua bahwa tempat itu bukan sekadar penitipan biasa.
Daftar fasilitas yang ditawarkan mencakup pemeriksaan dokter gigi, pemeriksaan psikologis, dan pijat bayi rutin sebulan sekali. Dari sisi pendidikan, ada program three lingual yang memuat Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jawa, ditambah kelas IT serta kegiatan story telling.
Pada sisi keagamaan, anak-anak dijanjikan mendengar murottal Al-Quran setiap hari, salat dhuha bersama, belajar iqro, dan dilatih bersedekah sejak dini. Fasilitas pendukung lain juga disebut tersedia, seperti ruang ber-AC, paket mandi lengkap, makan siang, dan snack.
Fleksibel untuk orang tua yang sibuk
Daya tarik Little Aresha juga datang dari skema penitipan yang fleksibel. Model ini jelas menyasar orang tua bekerja yang membutuhkan jam layanan panjang dan pilihan jadwal yang beragam.
Tempat itu menawarkan program penitipan Senin sampai Jumat dan Senin sampai Sabtu. Jam operasional yang tersedia disebut mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WIB serta 07.00 sampai 18.00 WIB, dengan tarif yang berbeda.
Ada pula kebijakan yang membuat layanan ini terlihat longgar bagi orang tua. Tidak ada denda keterlambatan jemput, dan orang tua yang datang terlambat hanya diminta mengisi kotak infaq di meja resepsionis atau memberi kepada pengasuh seikhlasnya.
Layanan disebut tetap buka saat libur semester dan hanya tutup pada hari besar mengikuti jadwal pemerintah. Bahkan tersedia penitipan malam pukul 18.00 sampai 07.00 serta penitipan di hari libur atau Minggu dengan biaya tambahan.
Foto rapi dan akses yang dibatasi
Selain janji layanan, dokumentasi visual juga diduga menjadi alat penting untuk membangun keyakinan orang tua. Admin Little Aresha disebut mengirim foto kamar, kasur, dapur, dan area bermain yang tampak bersih, rapi, dan ber-AC.
Foto-foto itu memberi gambaran bahwa lingkungan daycare terawat dan aman. Citra visual tersebut memperkuat kesan premium yang sudah dibangun lewat brosur dan daftar layanan.
Orang tua memang disebut bisa mengecek lokasi sebelum menitipkan anak. Namun kunjungan dibatasi hanya pada hari Minggu dan harus melalui janji langsung dengan pemilik, Diyah Kusumastuti.
Pembatasan ini ikut menjadi perhatian karena diduga membuat orang tua tidak melihat kondisi sebenarnya saat aktivitas penitipan berlangsung. Waktu kunjungan yang sempit juga memberi ruang bagi pengelola untuk menyiapkan tampilan daycare agar terlihat bersih, layak, dan nyaman.
Dokumentasi yang disebut menutupi kekerasan
Di sisi lain, admin Little Aresha disebut menawarkan bantuan memandikan atau memberi makan anak jika pagi hari belum sempat diurus di rumah. Penawaran itu membangun citra pengasuh yang penuh kasih dan siap membantu keluarga sibuk.
Namun temuan polisi menunjukkan kondisi yang berlawanan. Anak-anak disebut langsung diikat tangan dan kakinya sejak pagi saat baru datang, lalu ikatan itu baru dilepas saat jam makan atau mandi.
Momen tersebut diduga dipakai untuk mengambil dokumentasi foto yang kemudian dikirim ke orang tua agar situasi terlihat aman. Dengan begitu, foto bukan hanya laporan kegiatan harian, melainkan juga alat untuk menutupi kekerasan fisik yang disebut terjadi di dalam daycare.
Source: www.suara.com






