Freelander 8 langsung menempatkan teknologi sebagai pusat perhatian. SUV ini mengusung sistem keselamatan aktif pintar Huawei ADS 5.0, sensor LiDAR 896-line di atap, dan cip Qualcomm Snapdragon 8397 untuk kontrol terpusat kendaraan yang cepat.
Untuk kemampuan di medan berat, Freelander 8 memakai Intelligent All-Terrain System atau i-ATS yang disebut pertama di dunia. Sistem ini membaca permukaan jalan secara real-time lewat data LiDAR dan kamera binokular di depan, lalu menyesuaikan strategi berkendara dalam hitungan milidetik.
Paket penggeraknya juga dibuat fleksibel. Freelander 8 dibangun di atas platform khusus dan disiapkan untuk varian BEV, PHEV, serta Extended-Range atau EREV bertegangan tinggi 800V dengan sistem AWD.
Baterainya dikembangkan bersama CATL dan mendukung pengisian daya super cepat hingga 6C. Daya input puncaknya disebut bisa mencapai 350 kW, sehingga arah elektrifikasinya terlihat sangat serius.
Di sisi lain, nama Freelander sendiri kini hadir dalam format yang berbeda dari sebelumnya. Chery dan Jaguar Land Rover menghidupkannya lagi sebagai sub-brand baru, dan model perdananya, Freelander 8, sudah tampil global di hadapan ratusan mitra diler dan media internasional.
Posisi merek ini juga dibuat jelas sejak awal. Freelander ditempatkan sebagai jembatan antara warisan desain premium khas Inggris milik JLR dan kekuatan teknologi serta manufaktur Chery.
Arah itu sejalan dengan rencana ekspansi yang memang tidak kecil. Pasar domestik Tiongkok dan Timur Tengah disebut menjadi target awal sebelum merek ini bergerak ke pasar lain.
Freelander sendiri bukan nama baru di dunia otomotif. Model aslinya pertama kali muncul pada 1997 dan sempat dikenal sebagai SUV terlaris di Eropa pada masanya.
Lucia Mao, CEO Freelander International, mengatakan merek ini ingin menghadirkan pengalaman mobilitas premium yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan kemampuan jelajah tangguh di berbagai medan. Karakter itu tampak kuat pada Freelander 8 yang hadir dengan bodi besar dan tegas.
Secara ukuran, SUV ini panjangnya sekitar 5,1 meter. Desain dasarnya mengacu pada Concept 97, dengan bentuk bodi kokoh, tegap, dan mengotak.
Sentuhan Phil Simmons, desainer yang juga merancang Range Rover, ikut memberi nuansa familiar pada tampilannya. Siluetnya mengingatkan pada Defender, Freelander, dan Range Rover, sementara pilar diagonal di bagian belakang menjadi detail yang paling menonjol.
Identitas barunya ditegaskan lewat tulisan emboss Freelander berukuran besar di bagian depan dan belakang. Tidak ada logo pabrikan Inggris tersebut, tetapi kesan modern tetap hadir lewat gagang pintu semi-tersembunyi, spion besar, roof rack, spoiler belakang terintegrasi, dan empat kamera di buritan untuk sensor serta bantuan berkendara.
Masuk ke kabin, pendekatannya terasa praktis sekaligus digital. Dasbor memakai layar melayang berukuran besar, lalu ada monitor lain yang membentang di konsol tengah.
Tombol fisik tetap dipertahankan di bawah layar agar pengaturan cepat lebih mudah dilakukan. Setirnya berbentuk oval dengan palang empat dan balutan dua warna, sedangkan tuas transmisi ditempatkan di belakang kemudi.
Area tengah juga diisi dua selektor putar untuk mode berkendara dan dua slot pengisian daya ponsel nirkabel. Penumpang belakang mendapat kursi baris kedua bergaya zero-gravity untuk menjaga kenyamanan perjalanan jarak jauh.
Di balik pengembangan merek ini, Freelander 8 juga punya peran strategis bagi Chery Jaguar Land Rover atau CJLR. Di tengah tekanan pasar di Tiongkok, pabrik perakitan canggih di Changshu yang berkapasitas 200.000 unit per tahun direncanakan menghentikan produksi model lama seperti Evoque, Discovery Sport, dan beberapa lini Jaguar pada akhir tahun 2026.
Langkah itu dibuat agar seluruh sumber daya bisa difokuskan ke pengembangan brand Freelander. Dalam rencana jangka menengah, CJLR menargetkan satu model baru setiap enam bulan dengan total enam model dalam lima tahun ke depan.
Pasar Timur Tengah menjadi sasaran awal sebelum ekspansi ke 90 negara, termasuk Asia Tenggara. Dari skema tersebut, peluang masuk Indonesia juga terbuka, meski arah akhirnya tetap bergantung pada strategi ekspansi merek baru ini.
Source: www.oto.com