Garuda Di Dadaku Versi Animasi Lolos ke Shanghai, Bukti Animator Indonesia Makin Siap Bersaing Worldwide

Keberhasilan Garuda di Dadaku versi animasi menembus kompetisi Shanghai International Film Festival menjadi sorotan besar bagi animasi Indonesia. Film ini masuk kategori animasi lewat undangan langsung dari distributor internasional, sesuatu yang dipandang Shanty Harmayn sebagai langkah penting di panggung dunia.

Bagi Shanty, pencapaian itu menunjukkan bahwa karya animasi lokal tidak lagi sekadar hadir, tetapi benar-benar ikut bersaing. Ia menilai ini sebagai kali pertama film layar lebar animasi Indonesia tampil di ajang sebesar itu sebagai peserta kompetisi, bukan hanya program nonkompetisi.

Di balik capaian tersebut, proses produksinya melibatkan kerja kolaboratif yang luas. Sekitar 500 animator dari berbagai daerah ikut terlibat, termasuk dari Batam, Yogyakarta, Malang, Bali, Bogor, dan Jakarta.

Produksi film ini juga menggandeng 17 studio animasi. Beberapa di antaranya adalah Imaji Studio, Manimonki, Leomotions, dan Brown Bag Films Bali, dengan pengerjaan yang memakan waktu tiga tahun.

Shanty melihat langsung hasil kerja para animator muda yang terlibat saat screening Garuda di Dadaku versi animasi di Jakarta. Dari situ, ia menilai perkembangan animasi nasional sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Film ini sekaligus menghidupkan kembali IP yang sudah lama dikenal publik. Garuda di Dadaku sebelumnya hadir dalam format live action pada 2009 dan 2011, sehingga namanya sudah akrab di masyarakat.

Lewat versi animasi, film ini diposisikan sebagai tontonan baru yang relevan untuk anak-anak Indonesia. Shanty juga berharap semangat nasionalisme yang dibawa film ini bisa terasa kuat, terlebih karena hadir berdekatan dengan libur sekolah dan euforia Piala Dunia 2026.

Kehadiran Garuda di Dadaku versi animasi memberi harapan baru bagi industri animasi tanah air. Pencapaian di Shanghai dipandang bisa membuka jalan bagi karya lokal lain untuk mendapat perhatian lebih besar di pasar global.

Di tengah persaingan industri kreatif yang makin ketat, proyek ini memperlihatkan bahwa kualitas teknis, konsistensi produksi, dan kolaborasi dapat membawa animasi Indonesia ke panggung yang lebih luas. Garuda di Dadaku pun menjadi contoh bahwa IP lokal bisa terus hidup dan berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait