GD01 Bisa Dinaiki Manusia Lalu Menerjang Tembok, Unitree Tunjukkan Mecha Baru yang Ekstrem

Author: Redaksi Android62

Unitree membuat langkah yang jarang ditempuh perusahaan robotika arus utama. Startup asal Hangzhou itu memperlihatkan GD01, mecha besar yang bisa dinaiki manusia, lalu didorong untuk bergerak tegak sebelum menghantam tembok bata ringan hingga jebol.

Yang membuat demonstrasi ini menonjol bukan hanya ukurannya, tetapi juga cara Unitree memosisikannya. Perusahaan itu tidak menampilkan GD01 sebagai prototipe pajangan, melainkan sebagai produk sungguhan yang bisa dibeli.

Mecha berpenumpang dengan tampilan ala film fiksi ilmiah

Dalam video perkenalannya, pendiri sekaligus CEO Unitree, Xingxing Wang, terlihat bergandengan tangan dengan GD01 sebelum masuk ke tubuh robot yang terbuka. Dari dalam bagian itu, ia mengendalikan mesin tersebut seolah sedang mengoperasikan kendaraan raksasa.

Nuansa yang dibangun juga sangat berbeda dari citra Unitree selama ini. Selama ini, nama Unitree lebih sering dikaitkan dengan robot humanoid dan robot berkaki empat yang viral karena gerakan sinkron, tarian, hingga aksi kung-fu.

Bisa berubah posisi dan bergerak seperti kepiting mekanis

Salah satu bagian paling mencolok dari GD01 adalah kemampuannya berganti mode gerak. Robot ini tidak hanya berjalan tegak, tetapi juga memperlihatkan posisi merangkak dengan tangan dan kaki yang menyerupai kepiting mekanis.

Dalam konfigurasi itu, operator manusia berbaring telentang di dalam tubuh robot sambil menghadap ke langit. Bentuk pengoperasian seperti ini membuat GD01 terasa lebih ekstrem dibanding robot-robot Unitree sebelumnya.

Ditetapkan sebagai produk yang bisa dibeli

Unitree menegaskan bahwa GD01 bukan sekadar konsep pameran. Perusahaan itu menyebut robot tersebut sebagai produk yang tersedia untuk dibeli, meski detail teknisnya belum dibuka sepenuhnya.

Ada pula pesan agar robot digunakan dengan “Friendly and Safe manner”. Peringatan itu terasa relevan karena GD01 tampil dengan tenaga dan bentuk yang jauh lebih dekat ke alat berat daripada robot hiburan biasa.

Berjarak jauh dari karakter G1 yang lebih dikenal publik

GD01 hadir sangat kontras dengan G1, humanoid yang selama ini membantu membangun nama Unitree. G1 dijual sekitar US$15.000 dan kerap tampil dalam video akrobat, gerakan sinkron, serta demonstrasi bela diri.

Sebaliknya, GD01 diposisikan sebagai mesin spektakuler yang lebih dekat ke adegan laga. Dalam demonstrasi yang ditampilkan, robot ini bisa berdiri, berjalan dengan pilot di dalamnya, lalu melibas dinding cinder block sampai pecah.

Masih menyisakan tanda tanya soal kendali

Unitree belum menjelaskan secara rinci apakah GD01 sepenuhnya dikendalikan dari jarak jauh atau memiliki sebagian fungsi otonom. Namun, melihat lini produk Unitree yang sudah ada, pengoperasian jarak jauh masih menjadi dugaan paling masuk akal untuk saat ini.

Meski begitu, satu hal sudah jelas: GD01 ditunjukkan sebagai mesin fungsional, bukan sekadar model display. Kehadirannya memperluas citra Unitree dari pembuat robot viral menjadi pemain yang berani masuk ke wilayah mecha besar.

Strategi biaya murah ikut menjadi sorotan

Perhatian terhadap Unitree juga datang dari kemampuannya menekan biaya. G1 dibanderol sekitar US$15.000, sementara humanoid buatan Amerika Serikat dengan kelas serupa bisa mencapai sekitar 10 kali lipat harga itu.

Sejumlah pengamat industri menilai keunggulan tersebut lahir dari integrasi Unitree yang dalam ke rantai pasok perangkat keras China yang besar. Di sisi lain, robot-robot Unitree juga dianggap ramah bagi pengembang karena mudah dikonfigurasi dan dipakai menjalankan program AI.

Momentum perusahaan ini sebelumnya ikut terdorong oleh penampilan publik mereka. Awal tahun ini, robot-robot Unitree tampil dalam pertunjukan parkour dan bela diri yang disiarkan secara nasional saat festival musim semi, dengan koordinasi waktu nyata lewat komunikasi nirkabel antarrrobot.

Kehadiran GD01 memperlihatkan bahwa batas antara robot praktis dan robot pertunjukan semakin kabur. Untuk saat ini, Unitree tampak ingin menunjukkan bahwa mecha besar yang bisa ditumpangi manusia bukan lagi sekadar fantasi mahal di dunia riset atau pertahanan.

Berita Terbaru