Ancaman Siber Makin Berat, ITSEC Asia Menangkap Peluang Saat Anggaran IT Melambat

Author: Redaksi Android62

Bagi ITSEC Asia, gelombang tekanan pada belanja teknologi justru membuka ruang yang lebih besar bagi keamanan siber. Saat banyak organisasi menahan anggaran, kebutuhan untuk melindungi akses digital, data, dan sistem bisnis tetap tinggi karena ancaman terus bergerak naik.

Di Indonesia, urgensi itu terlihat dari skala serangan yang sangat besar. Badan Siber dan Sandi Negara mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik sepanjang Januari hingga November 2025, atau hampir 182 percobaan serangan setiap detik.

Ancaman tersebut tidak lagi dipandang sebagai urusan teknis semata. Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menilai risiko siber sudah berubah menjadi tantangan strategis yang menuntut kesiapan matang, kolaborasi lintas sektor, serta investasi berkelanjutan pada teknologi, proses, dan sumber daya manusia.

Tekanan global tidak otomatis menurunkan kebutuhan keamanan

Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSEC Asia, melihat ketegangan ekonomi global seperti perang dagang dan ketidakpastian tarif sering memicu aktivitas siber yang melibatkan aktor negara. Ia menyebut pola serupa pernah tampak saat konflik dagang AS-Cina pada 2018 dan kini muncul lagi dalam skala yang lebih luas.

Menurut Patrick, periode ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun kerap dimanfaatkan pelaku ancaman untuk menyerang. Karena itu, ITSEC Asia menempatkan diri sebagai infrastruktur yang harus siap ketika krisis terjadi, bukan hanya saat kondisi normal.

Indonesia masih menjadi arena serangan yang padat

Patrick juga menyebut Indonesia menghadapi lebih dari 3,6 miliar serangan yang tercatat dalam setahun terakhir. Angka itu memperkuat pandangan bahwa pendekatan reaktif tidak lagi memadai untuk menghadapi pola ancaman yang terus berulang.

Posisi Indonesia di kawasan juga memperlihatkan besarnya tekanan tersebut. Negara ini berada di peringkat ke-12 Asia Pasifik untuk tingkat aktivitas siber, dengan sektor keuangan, energi, telekomunikasi, dan pemerintahan menjadi sasaran yang paling sering disorot.

Data BSSN menunjukkan 93,78% anomali trafik nasional pada 2025 berbasis malware. Kondisi ini membuat pencurian akses digital menjadi risiko bisnis yang nyata karena serangan tidak berhenti pada pencurian data, tetapi bisa berlanjut ke pengambilalihan akun, penipuan, penyalahgunaan layanan cloud, hingga menjadi pintu masuk ransomware.

Pasar melambat, tetapi kebutuhan tetap besar

Di saat yang sama, perlambatan belanja keamanan tidak berarti pasar mengecil. Laporan Gartner menunjukkan anggaran keamanan siber global hanya tumbuh rata-rata 4% pada 2025, turun dari 8% pada tahun sebelumnya, sementara total pengeluaran keamanan informasi dunia tetap diproyeksikan mencapai US$ 213 miliar.

Perlambatan itu terjadi di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian kebijakan tarif. Namun, kondisi tersebut justru mendorong banyak organisasi mencari penyedia lokal yang lebih memahami regulasi dan kedaulatan data regional.

ITSEC Asia menilai tren itu menguntungkan posisinya di Indonesia. Perusahaan melihat kebutuhan pasar domestik bergerak searah dengan meningkatnya perhatian pada kepatuhan, pengelolaan risiko, dan perlindungan sistem yang beroperasi di dalam negeri.

Portofolio, talenta, dan regulasi saling menguatkan

Untuk merespons peluang itu, ITSEC Asia menyiapkan sejumlah inisiatif. IntelliBroń Orion dan Aman digunakan untuk intelijen ancaman siber tingkat lanjut, sementara ITSEC AI Operations Center diposisikan untuk peluang pengadaan AI di sektor pemerintahan dan BUMN.

Perusahaan juga meluncurkan ITSEC Cyber and AI Academy untuk pengembangan talenta nasional. Langkah ini memperluas hubungan perusahaan dengan ekosistem pendidikan, pemerintah, dan industri, sekaligus memperkuat dimensi ESG.

Patrick menilai pendekatan tersebut tidak berhenti pada layanan keamanan konvensional. Ia memandangnya sebagai upaya membangun ekosistem yang lebih luas dan menempatkan perusahaan dalam rantai penguatan kapasitas digital nasional.

Dari sisi kebijakan, ITSEC Asia melihat penguatan implementasi UU PDP, pembahasan RUU Keamanan Siber dalam agenda legislasi nasional 2025-2029, serta peta jalan AI nasional yang sedang dirampungkan Kementerian Komunikasi dan Digital bergerak ke arah yang sama. Semua itu dinilai memperbesar kebutuhan struktural terhadap layanan keamanan siber profesional.

Keterlibatan ITSEC Asia bersama Komdigi, BSSN, Bank Indonesia, dan lembaga negara lain juga menempatkan perusahaan sebagai mitra strategis dalam pembentukan arsitektur keamanan digital nasional. Dalam pandangan perusahaan, kebutuhan keamanan kini sudah menjadi bagian dari agenda kebijakan, bukan lagi urusan teknis internal semata.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terbaru