Gelombang panas awal musim panas di Eropa menekan sistem listrik dari berbagai sisi sekaligus. Permintaan listrik naik karena kebutuhan pendinginan melonjak, sementara pembangkit dan jaringan justru bekerja kurang efisien di tengah suhu ekstrem.
Tekanan paling nyata muncul saat sebagian pembangkit termal dan nuklir harus mengurangi output. Di Prancis selatan, satu reaktor nuklir bahkan dihentikan setelah air sungai yang dipakai untuk pendinginan menjadi terlalu hangat.
Pasokan turun saat kebutuhan naik
Di sekitar pembangkit nuklir Golfech dekat Toulouse, situasinya menjadi semakin sempit. Unit satu sudah lebih dulu berhenti untuk perawatan terjadwal dan pengisian bahan bakar, lalu unit dua juga harus turun daya karena sungai di dekatnya tidak lagi cukup dingin untuk air pendingin.
Kondisi itu mengurangi kapasitas listrik yang tersedia pada saat kebutuhan sedang meningkat tajam. Di saat bersamaan, suhu rekor di banyak negara Eropa juga membebani aktivitas harian dan meningkatkan risiko kesehatan.
Jaringan listrik berada di bawah tekanan berlapis
Gelombang panas membuat jaringan listrik rentan karena dua hal berjalan bersamaan. Konsumsi naik akibat lebih banyak orang membutuhkan pendingin, tetapi suhu tinggi juga menurunkan efisiensi pembangkitan dan penyaluran listrik.
Situasi ini mendorong sistem berada di bawah tekanan saat pasokan andal paling dibutuhkan. Jika penggunaan pendingin udara terus meluas, Eropa berisiko menghadapi lonjakan permintaan musim panas yang selama ini lebih akrab terjadi di Amerika Serikat, termasuk ancaman pemadaman listrik dan brownout.
Pola lama perawatan pembangkit mulai tak cocok
Selama ini, jaringan listrik Eropa lebih sering menghadapi puncak permintaan pada musim dingin karena pemanas listrik lebih umum daripada pendingin udara. Karena itu, sebagian pemadaman terencana masih banyak dilakukan pada musim semi dan musim panas.
Pola tersebut kini makin sulit dipertahankan ketika musim panas yang lebih panas menjadi lebih sering terjadi. Perubahan iklim global berpotensi menggeser waktu serta pola konsumsi listrik, sehingga panas musim panas menjadi sumber tekanan grid yang jauh lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
Pendingin udara masih belum merata
Ketersediaan pendingin udara di Eropa masih jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat. Di seluruh Eropa, sekitar satu dari lima rumah memiliki AC, sedangkan di AS angkanya mendekati 90 persen.
Perbedaan itu bahkan lebih mencolok di beberapa negara. Di Inggris, tingkat kepemilikan AC sekitar 5 persen, sementara di Jerman sekitar 3 persen.
Langkah yang perlu diubah
Operator utilitas dan pengelola jaringan kini didorong meninjau ulang perencanaan dasar. Penyesuaian itu mencakup waktu pembangkit dihentikan untuk perawatan, jumlah cadangan daya yang dibutuhkan pada musim panas, serta cara mempersiapkan kenaikan permintaan pendinginan.
Untuk menghadapi tekanan yang semakin sering muncul, penambahan pasokan listrik harus diikuti penguatan transmisi agar daya bisa dialirkan ke wilayah yang paling membutuhkan. Koordinasi lintas batas juga menjadi penting karena negara-negara Eropa saling bergantung saat permintaan melonjak.
Simone Tagliapietra, senior fellow di Bruegel, menyebut kondisi ini sebagai “triple squeeze” atau tekanan tiga lapis. Menurut dia, permintaan pendinginan naik tajam, pembangkit dan jaringan menjadi kurang efisien, sementara sebagian pembangkit termal serta nuklir harus menurunkan output karena air pendingin terlalu panas atau terlalu sedikit.







